Jangan menunggu kaya kemudian bershodaqoh, akan tetapi bershodaqohlah, niscaya Anda akan kaya.

Penggalan kalimat tersebut bukanlah hisapan jempol belaka. Ini adalah rumus ilahiyah yang telah terbukti dan telah dirasakan oleh orang-orang pemberani karena Alloh telah berjanji. Hanya orang-orang beriman yang yakin bahwa janji Alloh pasti terjadi. Kuncinya adalah yakin. Ketika kita semua memiliki keyakinan yang besar, maka kita akan mendapatkan janji-janji Alloh subhanahu wa ta’ala. Semakin mantap dan teguh langkah kita, maka terbukalah kemudahan menuju apa yang kita harapkan.

Seorang muslim yang baik adalah mereka yang tidak membenturkan istilah KAYA dan MISKIN. Kedua istilah tersebut telah Alloh ta’ala jadikan sebagai ujian. Yang salah bukan karena miskin atau kaya, akan tetapi bagaimana seseorang ketika diberikan ujian kemiskinan dan kekayaan tetap dalam keadaan terhormat dan menjadi mulia di sisi Alloh Yang Maha Kaya.

Berapa banyak manusia yang hancur dan bergelimpangan karena tidak kuat menghadapi ujian kekayaan? Yang pada akhirnya berujung pada kebangkrutan. Namun demikian banyak manusia yang berhasil dengan kekayaannya, dan banyak pula manusia yang pada mulanya didera dengan kemiskinan, namun tetap sabar seraya menjadikan kemiskinannya cambuk dan alasan kuat untuk maju sehingga di menjadi muslim sejati yang kaya dan dermawan.

Kedermawanan adalah sikap terpuji yang telah dicontohkan Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam sang Rosul llahi. Nabi kita adalah sang dermawan dan suri tauladan sejati. Melalui pribadi beliaulah kita bisa bercermin tentang sifat kedermawanan yang sesungguhnya tanpa basa-basi.

Lain manusia beriman, lain pula setan. Setan adalah makhluk yang tidak akan rela apabila manusia melakukan kebaikan. Kebaikan adalah lawan dari keburukan dan keburukan datangnya dari setan. Pun ketika manusia akan mengeluarkan atau mendermakan hartanya, setan telah siap menjegal manusia agar mengurungkan niatnya. Setan akan membisikan keraguan kepada seseorang yang hendak melakukan kebaikan dengan kemiskinan dan kekurangan harta, sehingga mereka enggan bershodaqoh dan mendermakan hartanya.

Alloh ta’ala berfirman:

 الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Alloh menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia-Nya. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh[2]: 268)

Alih-alih pelit bershodaqoh karena alasan ingin berhemat atau takut berkurang harta. Padahal jika manusia mengetahui dahsyatnya efek dari shodaqoh ini, maka mereka akan berusaha untuk terus berderma di jalan Alloh subhanahu wa ta’ala. Begitu besar pahal di sisi Alloh bagi siapa saja yang gemar bershodaqoh dengan mendermakan apa-apa yang telah diberikan Alloh.

Salah Kaprah Tentang ‘Hemat Pangkal Kaya’

Ada empat kesahalan dalam berhemat. Bukan berhematnya yang salah, tetapi kesalahan terletak pada bagaimana cara menempatkannya. Keempat kesalahan ini yang justru akan membuat kita miskin.

Pertama: Saking hematnya, banyak orang yang tidak mau shodaqoh atau infaq dijalan Alloh. Padahal bershodaqoh akan melipatkgandakan rezeki, itulah janji Alloh dalam banyak hadits dan ayat  Al-Qur’an. Yang terpenting adalah kita ikhlas bershodaqoh hanya kepada Alloh. Jika tidak mau bershodaqoh, bukankah terkesan rezeki kita tidak mau dilipatgandakan?

Kedua: Karena berhemat, hidup jadi sengsara, artinya hemat yang berlebihan. Kenapa sikap seperti ini akan membuat kita miskin? Sebab mindset atau pola pikir kita akan mengatakan bahwa kita adalah orang yang serba kekurangan dan kita adalah orang miskin, sehingga pikiran dan tindakan kita pun akan seperti orang miskin.

Kita boleh berhemat, namun jangan berlebihan. Tahan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak perlu. Menikmati rezeki dari Alloh agar keluarga bisa tersenyum, selama tidak berlebihan dan di dalam batas kemampuan, bukanlah pemborosan. Ini bisa menjadi bentuk syukur dan nafkah batin bagi keluarga. Rekreasi, jalan-jalan, dan makan di luar sesekali boleh-boleh saja, yang tidak boleh adalah terus-menerus melakukannya hingga menghabiskan uang.

Ketiga: Tidak mau berinventasi akhirat. Jika Anda memiliki penghasilan Rp 5.000.000 per bulan, berapa penghematan yang bisa Anda lakukan? Rp 3.000.000? Atau Rp 1.000.000? Atau Rp 100.000? Jika jawaban terakhir yang benar, artinya Anda belum bisa berhemat sama sekali.

Intinya ialah jangan fokus pada berhemat saja, sisihkan sebagian hasil penghematan Anda untuk inventasi akhirat.

Keempat: Melupakan pendidikan. Saking hematnya, banyak orang yang enggan mengeluarkan uang untuk membeli buku, video islami, mengikuti seminar, dan sebagainya. Banyak orang yang berpikir pendidikan bukan kebutuhan primer sehingga mendapatkan alokasi terakhir (jika ada sisa), bahkan tidak dialokasikan sama sekali.

Melupakan pendidikan sebenarnya sama dengan membatasi pikiran Anda untuk berkembang. Padahal keberhasilan Anda akan berbanding lurus dengan besarnya pikiran dalam diri Anda. Pikiran Anda ibarat wadah. Cara memperbesar pikiran ialah dengan belajar atau mengikuti pendidikan. Hanya orang yang berpikiran besar yang akan meraih pencapaian besar. Pikiran mempengaruhi tindakan Anda, dan tindakan akan menentukan hasil.

Berhemat dan Menjadi Kaya

Agar penghematan Anda menjadi berkah, maka hindari kesalahan di atas dengan hasil berikut ini:

  1. Gunakan hasil penghematan Anda untuk shodaqoh (tentu saja selain zakat Anda). Insya Alloh ini akan membuat keberkahan dan Alloh akan menambah rezeki kita. Niatkan shodaqoh hanya karena Alloh, bukan karena ingin ditambah harta. Penambahan harta itu adalah bonus dari Alloh sesuai janji-janji-Nya seperti tertulis dalam Al-Qur’an dan hadits.
  2. Nikmati hidup. Jangan menjadi orang yang sengsara sementara Anda sebenarnya mampu hidup lebih baik, yang terpenting adalah jangan boros.
  3. Investasikan sebagian hasil penghematan Anda. Bangunlah bisnis sendiri yang hasilnya digunakan untuk infak fisabilillah dll. Sebagaimana sahabat Salman Al-Farisi rodhiallohu anhu, beliau telah memberikan tauladan yang baik dalam mengatur finansial. Beliau membagi penghasilannya menjadi tiga bagian, satu pertiga untuk bekal, satu pertig auntuk shodaqoh dan satu pertiganya untuk Investasi/modal.
  4. Investasikan pada pendidikan. Tetaplah belajar agar ilmu pengetahuan Anda bertambah dan pikiran Anda berkembang. Ilmu-ilmu agama juga harus menjadi prioritas, sebab iman bisa bertambah dan berkurang. Salah satu cara memupuknya adalah menuntut ilmu karena menuntut ilmu adalah belajar.

Memiliki kebiasaan baik seperti gemar bershodaqoh tidak begitu saja menjadi sifat seseorang. Perlu latihan yang konstan agar menjadi habbit atau kebiasaan. Pada awalnya mungkin terasa berat, namun setelah dibiasakan akan mudah dan lancer, mengalir tanpa beban.

Saran latihan untuk bershodaqoh begitu banyak dan bisa divariasikan. Anda bisa menyediakan kotak kecil di rumah yang setiap hari bisa diisi uang koin atau lembaran, dan senantiasa di rutinkan. Atau ketika sholat Jum’at, ada kotak infak berjalan yang bisa dijadikan sebagai sarana latihan.

Jangan lupa menambah motivasi dengan terus membaca, mempelajari, dan kemudian sedikit demi sedikit mengamalkan cara hidup Nabi sholallohu alaihi wasallam dan para sahabatnya, terkhusus dalam keikhlasan mereka menginfakkan hartanya di jalan Alloh. Sebaikn-baik contoh adalah Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dalam segala hal. Beliaulah manusia yang paling bertakwa kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Beliau seorang Nabi dan Rosul yang ma’sum (dijamin ampunan dan terbebas dari dosa), tetapi dengan kema’sumannya beliau tidak angkuh dan sombong. Justru sebaliknya, beliau memberikan contoh semangat dan kesungguhan kepada ummatnya di dalam beribadah kepada Alloh.

Berdo’alah kepada Alloh agar kita diberikan kebaikan dengan sifat berderma, bershodaqoh di jalan Alloh ta’ala. Karena Nabi sholallohu alaihi wasallam pun selalu berdo’a kepada Alloh untuk dimampukan dalam beribadah kepada-Nya.

Allohu al-Musta’an.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05