Oleh: Ust Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Bersyukur atas setiap keadaan akan membuat hati kita selalu tenang dan bahagia. Akan tetapi harus kita ketahui bahwa syukur yang benar adalah dengan menjalankan semua yang telah diperintahkan kepada kita dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Jika kita telah bersyukur dengan syukur yang sebenarnya, niscaya kita akan menjadi orang yang berbagia, tidak hanya di dunia, namun juga akan menjadi orang yang berbagia di akhirat dengan mendapatkan hunian yang Maha Indah yaitu surga Allah subhanahu wa ta’ala.

Salah satu bentuk syukur yang benar adalah tidak berbuat syirik yaitu, memberikan sifat-sifat atau hak-hak Allah atau memberikan peribadatan yang seharusnya hanya dipersembahkan kepada Allah kepada zat selain-Nya, baik sebagian ataupun seluruhnya. Demikian juga termasuk perbuatan syirik adalah menyamakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk-Nya, atau menjadikan suatu zat sebagai tandingan-Nya dalam hal apa pun juga.

Syirik terbagi menjadi dua, Syirik akbar atau syirik yang menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam, dan syirik asghor yaitu perbuatan-perbuatan, baik perbuatan hati, lisan atau pun anggota badan, yang masuk dalam kategori syirik tetapi tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam. Walaupun syirik ashgor ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, tetapi syirik ashgor adalah dosa yang sangat besar.

Banyak sekali dalil-dalil yang berkaitan dengan larangan berbuat syirik dan ancaman bagi para pelakunya. Di antaranya adalah,

Pertama: firman Allah.

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (QS. an-Nisa: 36)

Berkaitan dengan ayat ini, Imam Abul Fida Isma’il bin Umar bin Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan makhluk-Nya untuk beribadah hanya kepada-Nya. Karena Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Pemberi Rezeki, Karunia, dan Nikmat kepada para hamba-Nya dalam setiap saat dan kondisi. Dengan demikian, sudah seharusnya bagi mereka untuk mengibadahi-Nya semata dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun.”

Kemudian yang Kedua, Firman Allah ta’ala.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)

“Dan tatkala Luqman berkata pada anaknya sambil memberikan nasihat pada-nya, wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah sesungguhnya syirik itu adalah kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Berkaitan dengan ayat yang mulia ini, seorang Ahli Tafsir yang bernama Muhammad ath-Thohir bin ‘Asyur dalam kitabnya at-Tahrir dan at-Tanwir mengatakan, “Dalam ayat ini Luqman memulai nasihat kepada anaknya supaya tidak menyekutukan Allah. Karena jiwa yang akan dibersihkan dan disempurnakan harus dikosongkan dulu dari keyakinan yang rusak dan sesat. Sesungguhnya memperbaiki akidah itu adalah pondasi untuk memperbaiki amal perbuatan, dan pokok pangkal rusaknya keyakinan adalah bersumber dari salah satu perkara yaitu kesyirikan dan tidak meyakini adanya hari kebangkitan. Maka, perkataan Luqman ‘Janganlah menyekutukan Allah’ menunjukkan adanya satu tuhan yaitu Allah dan meniadakan adanya tuhan selain-Nya.”

Yang Ketiga,  Hadist yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Muadz bin Jabal radhiallahu anhu, bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“‘Wahai Mu’adz! Tahukah engkau, Apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya? Muadz berkata, ‘Allah dan Rosul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Mereka harus beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.’ Beliau kembali bersabda, Tahukah engkau apa hak mereka atas Allah.’ Muadz berkata, ‘Allah dan Rosul-Nya lebih mengetahui.’

Nabi bersabda, ‘Allah tidak menyiksa hamba-Nya, jika mereka metauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya.”

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang mengandung larangan berbuat syirik.

Syirik akbar adalah perbuatan yang sangat keji, apabila pelakunya tidak bertaubat ketika di dunia, maka dia tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat nanti. sehingga menjadikannya kekal di dalam neraka. Selain itu perbuatan syirik juga akan meruntuhkan seluruh amal per-buatan pelakunya. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa: 48)

Kemudian Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya telah diwahyukan padamu dan pada orang-orang sebelum-mu bila engkau berbuat syirik maka hancurlah amalan-amalan engkau dan engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata:

“Sesungguhnya perbuatan syirik meruntuhkan seluruh amal ibadah.”

Bahkan, Allah menggambarkan bahwa orang yang berbuat syirik bagaikan orang yang jatuh dari langit dan disambar oleh burung. Sebagaimana firman-Nya artinya,

“Jadilah kalian orang-orang yang mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun juga. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. al-Hajj ayat 31)

Dari pembahasan ini, kita dapat mengetahui betapa besar dan mengerikan, ancaman bagi orang-orang yang melakukan perbuatan syirik, mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala membimbing kita untuk menjauhi perbuatan-perbuatan syirik dan menjadikan kita sebagai hamba yang mentauhidkan-Nya. sehingga kita mendapatkan surga-Nya yang mulia. Amin, Wallahu A’lam.