Menjalani kehidupan didunia ini, kita dikelilingi oleh hal-hal yang kita klaim sebagai milik kita. Rumah, pekerjaan, harta keahlian, ilmu, keluarga, dan lain sebagainya semua kita klaim milik kita. Tapi benarkah itu semua milik kita? Sejak kapan semua itu menjadi milik kita? Memang, berbagai surat-surat resmi membuktikan bahwa hal tersebut di atas sebagai milik kita, namun status kepemilikan itu adalah kepemilikan nisbi dan ada yang pemilik mutlak yang memiliki semua itu. Dialah Alloh ta’ala pemilik mutlak segala sesuatu. Bahkan diri kita pun miliknya.

Hal ini sering dilupakan oleh kita, bahwa kita bukanlah pemilik mutlak, bahkan kita bersikap seolah-olah kitalah pemilik sepenuhnya segala hal yang kita anggap milik kita. Sehingga kita memperlakukannya sesuai dengan selera dan nafsu duniawi kita, bukan disesuaikan dengan keinginan Sang Pemilik mutlak yaitu Alloh subhanahu wa ta’ala.

Tak terkecuali dalam masalah yang akan kita bahas kali ini yaitu harta, sering kita lalai ataupun lupa bahwa ia hanyalah titipan dari Alloh, yang di sana ada tanggung jawab, ada amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan sebagian dari harta itu milik orang lain yang harus disalurkan kepada yang berhak menerimanya. Lebih dari itu, ada sebagian kalangan yang memandang hidup ini dengan cara pandang materialisme yaitu cara pandang di mana seseorang bisa diterima atau ditolak pendapatnya diukur dari tingkat materinya, bukan karena hal yang disampaikan salah, bukan karena yang disampaikan itu tidak masuk akal, tapi hanya karena yang menyampaikan itu bukan dari kalangan orang yang kaya raya, sehingga menutup cahaya hidayah yang datang padanya. Hal ini yang pernah terjadi pada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam pada awal-awal dakwahnya di Mekkah.

Saudaraku yang dirahmati Alloh subhanahu wa ta’ala, untuk lebih memahami bahwa harta adalah amanah maka perhatikanlah poin-poin berikut ini:

  1. Harta adalah nikmat Alloh yang harus kita syukuri.

Harta yang dilimpahkan kepada seseorang haruslah disyukuri, karena tidak semua orang mendapatkan kepercayaan dari Alloh ta’ala untuk memikul tangggung jawab ini, bila ia mampu mensyukurinya maka akan mendatangkan pahala yang sangat besar dari-Nya. Dan bila tidak pandai mensyukuri nikmat-Nya maka sungguh akan diadzab oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dengan adzab yang pedih.

 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Robb kalian memaklumkan; “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrōhῑm [14]: 7)

Imam ibn Qoyyim rohimahulloh menyebutkan ada 3 syarat bersyukur kepada Alloh subhanahu wa ta’ala:

  • Meyakini bahwa nikmat yang diterima adalah berasal dari Alloh semata.
  • Menyanjung Alloh dengan bentuk sanjungan yang telah disyariatkan. misal dengan mengucapkan “alhamdulillah” atas nikmat yang Alloh subhanahu wa ta’ala berikan padanya.
  • Menggunakan nikmat yang Alloh berikan dijalan yang Alloh benar dan diridhoinya. bukan dijalan kemaksiatan kepada-Nya. Apabila digunakan untuk kemaksiatan maka bukan bentuk realisasi syukur pada-Nya, dan akan mendapatkan adzab dari Alloh azza wa jalla.

Termasuk dalam masalah harta, hendaknya realisasi syukur pada Alloh subhanahu wa ta’ala harus memenuhi 3 syarat tadi, setelah mengakui, menyakini dan menyanjung Alloh maka tuntutan selanjutnya memanfaatkan harta tersebut dijalan yang Alloh ridhoi bukan dijalan yang dibenci.

  1. Harta adalah amanah dari Alloh.

Harta merupakan amanah yang Alloh subhanahu wa ta’ala titipkan kepada yang ia kehendaki yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Baik dan buruk yang kita alami sudah menjadi ketentuan Alloh subhanahu wa ta’ala dan kita harus hadapi dengan baik dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Alloh. Demikian pula dengan harta, dibalik harta yang melimpah, ada amanah dan tanggung jawab yang harus ditunaikan, infak fii sabilillah, zakat, sedekah pada fakir miskin karena terdapat hak mereka dalam harta kita. Alloh ta’ala berfirman:

 وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)  لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (QS. al-Ma’arij [70]: 24-25).

 وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta-minta.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 19) serta dalil yang lain baik dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sangat jelas bahwa harta yang ada pada kita saat ini adalah amanah yang harus ditunaikan amanah tersebut sesuai apa yang dikehendaki dan diridhoi oleh Sang Pemberi amanah.

  1. Harta adalah ujian dari Alloh.

Sudah menjadi sunatulloh bahwa hidup di dunia ini ada yang kaya dan ada yang miskin. Dua kondisi tersebut sebenarnya merupakan sama-sama ujian dari Alloh, yang jadi masalah bukan pada kaya dan miskin akan tetapi bagaimana menghadapi ujian tersebut. Tidak ada tujuan lain kecuali satu, yaitu Alloh subhanahu wa ta’ala ingin mengetahui (dengan adanya ujian) siapa yang terbaik amalannya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ 

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. al-Mulk [67]: 2)

Dari ayat diatas nampak jelas, bahwa adanya hidup dan mati, kaya miskin, dan perhiasan dunia lainnya dengan satu tujuan yaitu untuk menguji manusia siapa diantara mereka yang paling baik amalnya, siapa diantara mereka yang menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah diwajibkan atas mereka. Bagi yang mendapatkan kekayaan siapa diantara mereka yang paling baik dalam menggunakan harta tersebut sesuai yang diperintahkan Alloh dan Rosul-Nya.

  1. Harta adalah perhiasan hidup yang harus diwaspadai karena bisa menjadi fitnah.

Alloh ta’ala berfirman:

 إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا 

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”. (QS. al-Kahfi [18]: 7)

Semua yang Alloh ciptakan dibumi ini adalah perhiasan hidup untuk manusia. Keluarga, anak, termasuk harta benda yang kita “miliki” pun perhiasan. Namun, perhiasan hidup itu sering menyilaukan seseorang sehingga membutakan mata hatinya dan membuat lupa kepada Alloh, dan tujuan penciptaan manusia dan perhiasan itu sendiri. Padahal itu semua adalah titipan, amanah dan ujian sehingga ketika terjadi demikian, maka perhiasan tersebut menjadi fitnah bagi “pemilik”nya yang akan menyebabkan kerugian di dunia dan di akhirat.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ 

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat allah. barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. al-Munafiqun [63]: 9)

 إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi-Nyalah pahala yang besar.” (QS. at-Taghobun [64]: 15)

Dari ayat-ayat diatas jelas, bahwa harta adalah perhiasan hidup terkandung amanah dan ujian yang seseorang harus menyikapinya sesuai apa yang diperintahkan oleh Alloh ta’ala.

  1. Harta adalah bekal untuk beribadah pada Alloh.

Alloh subhanahu wa ta’ala  menciptakan manusia dengan tujuan hanya untuk beribadah kepada-Nya saja. Sehingga segala fasilitas dan sarana yang ada di dunia ini dan telah Alloh sediakan hanya digunakan untuk satu tujuan ini, baik materi ataupun non materi. Harta kekayaan termasuk salah satu sarana tersebut, maka sudah semestinya digunakan untuk menjalankan peribadatan kepada Alloh.

Harta yang kita “miliki” saat ini harus sesuai dengan aturan Alloh mulai dari bagaimana cara mencarinya sampai akan dikemanakan harta tersebut digunakan, pertanyaan ini yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh subhanahu wa ta’ala, kaki seorang hamba tidak akan bergeser sampai ditanya empat hal dan salah satunya hal tersebut. Apakah semuanya diatas “rel” dalam peribadatan kepada Alloh ataukah tidak, jika “ya” maka pahala yang amat besar menanti, namun jika “tidak”, sungguh siksa Alloh amatlah pedih.

Akhirnya, kita memohon kepada Alloh subhanahu wa ta’ala semoga kita tergolong orang-orang yang pandai menyikapi harta sesuai dengan aturan yang telah Alloh tentukan. Wallohu A’lam…

 

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05