Oleh: Ust. Solahudin, Lc., M.A.

Sifat amanah adalah sifat lurus dan selamat dari kungkungan hawa nafsu. Sifat amanah berarti sifat menyerah pada aturan Allah serta tunduk dan patuh melaksanakan perintah-perintahNya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Allah telah menawarkan tanggung jawab melaksanakan syariat-Nya kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Akan tetapi mereka semua menolak untuk menerimanya. Mereka merasa sangat berat menerima tanggung jawab tersebut. Akan tetapi, manusia mau menerima tanggung jawab melaksanakan syariat Allah tersebut. Sungguh manusia suka menzalimi dirinya sendiri dan tidak pandai mengukur kemampuan dirinya.” (QS. al-Ahzab: 72)

Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya:

Menurut pendapat yang kuat, amanah meliputi semua tugas agama. Sebagaimana dalam firman Allah:

“Dan orang-orang yang memperhatikan dengan sungguh-sunguh amanah yang diberikan kepadanya dan memenuhi janji-janji mereka.” (QS. al-Mu’minun: 8)

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan di antara sifat orang-orang yang beruntung adalah mereka yang selalu menjaga janji dan amanah mereka.

Sesungguhnya sifat amanah termasuk rezeki terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Empat perkara; apabila ada padamu, maka tidak mengapa engkau kehilangan dunia, benar ucapan, menjaga amanah, akhlak yang baik, dan menjaga makanan dari yang tidak baik.”

Hadis ini disohihkan oleh syeikh al-Albani.

Amanah merupakan salah satu rukun akhlak yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Bahkan bisa menjadi sebab datangnya keberkahan kepada hamba, karena Allah subhanahu wa ta’ala mencintai orang yang amanah.

Amanah adalah sifat istimewa bagi para pemangku risalah. Di dalam surat as-Syuaro’ ayat 107, 125, 143, 162, dan 178, dikisahkan bahwa para nabi berkata kepada setiap kaumya:

“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan yang diutus kepadamu.”

Amanah merupakan persaksian musuh-musuh para nabi kepada mereka, seperti dalam dialog Heraklius raja Romawi dengan Abu Sufyan ketika beliau masih kafir. Heraklius berkata: ‘Aku bertanya kepadamu, apa yang diperintahkannya kepadamu? Maka engkau menjelaskan bahwa nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam memerintahkan shalat, berkata jujur, menahan dari yang haram, melaksanakan janji dan menunaikan amanah. Ia berkata: Ini adalah sifat seorang nabi.’  (kisah ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari)

Sungguh, jika ini merupakan sifat para penyeru risalah, maka sesungguhnya para pengikut mereka juga memiliki karakteristik seperti itu.

Apabila sifat amanah sudah menyatu dengan pribadi seseorang, maka ia akan selalu bertindak dengan sifat itu, baik dengan orang yang dikenal ataupun dengan orang yang belum dikenal, baik dengan seorang muslim maupun non muslim.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ‘Menipu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama, sama saja terhadap muslim atau kafir zimmi.’ Imam Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits yang di hasan sohihkan oleh al-Albani, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang berkhianat kepadamu.” (HR. Abu Dawud)

Yang demikian itu karena bahaya terjatuh dalam penghianatan dan rusaknya fitroh dengan membatalkan janji lebih berat daripada membalas kepada penghianat dengan balasan serupa.

Tindakan tipu daya orang-orang besar dan penghianatan orang-orang yang berkedudukan tinggi, jauh lebih keji dan lebih jahat daripada tergelincirnya orang awam dalam kesalahan tersebut.

Al-Qurthubi, dalam tafsirnya menjelaskan masalah ini dalam pembicaraannya tentang penipuan para pemimpin, ia berkata: ‘Para ulama kita berkata: sesungguhnya penipuan yang dilakukan pemimpin lebih besar dan lebih keji pada selainnya, karena mengandung kerusakan lebih besar. Sesungguhnya apabila mereka menipu dan terbongkar penipuannya serta tidak menepati janji, akan menyebabkan orang-orang berlari dari agama dan menyebabkan celaan terhadap para pemimpin kaum muslimin.

Tidak bersifat amanah, bukan hanya mendapatkan kehinaan dan kenistaan di dunia, akan tetapi dapat menyebabkan dirinya celaka di akhirat nanti.

Di antara amanah yang terpenting adalah memelihara rahasia manusia, menutup aib mereka, dan menyembunyikan pembicaraan majelis khusus mereka. Disebutkan dalam hadits yang disohihkan oleh al-Albani:

“Majelis-majelis khusus itu adalah amanah.”

Sekalipun yang bercerita tidak berpesan untuk menyembunyikan pembicaraan khususnya kepadamu, engkau tidak boleh menyebarkan kecuali dengan ijin dan sepengetahuannya, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang disohihkan oleh al-Albani:

“Apabila seseorang berbicara kepada orang lain dengan satu pembicaraan, kemudian ia pergi, maka ia adalah amanah.”

Di antara amanah adalah bekerja dengan baik dalam tugas yang diberikan oleh Pimpinan dan menyembunyikan rahasianya. Karena itulah, Imam al-Bukhari memberikan satu judul dalam Kitabul Ahkam: ‘Bab: “Dianjurkan bagi penulis bahwa ia seorang yang amanah serta berakal‘, mengisyaratkan kepada ucapan Abu Bakar radhiallahu anhu kepada Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu, saat ia akan menugaskannya untuk menulis mushaf: ‘Sesungguhnya engkau adalah seorang pemuda yang berakal, kami tidak menuduh engkau sebagi seorang yang berkhianat’..

Wallahu alam…