Pertanyaan : Ustadz saya mau bertanya, bagi kaum wanita muslim yang sedang berhalangan untuk sholat, apa yang sebaiknya dilakukan ketika waktu datangnya sholat? Dari Lea di Tomang.

Jawaban :

Islam tidaklah melarang wanita yang sedang haid atau nifas untuk melakukan semua ibadah selain amalan yang dilarang dalam syariat, seperti ;

  1. Shalat dan Puasa

Dari Abu Said , Nabi bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا

“Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Said di atas.

  1. Thawaf di Ka’bah

Aisyah pernah mengalami haid ketika berhaji. Kemudian Nabi -Saws- memberikan panduan kepadanya,

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.” (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

  1. Menyentuh Mushaf

Orang yang berhadats (hadats besar atau hadats kecil) tidak boleh menyentuh mushaf seluruhnya ataupun hanya sebagian. Inilah pendapat para ulama empat madzhab. Dalilnya adalah sabda Nabi -Saws- ,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh engkau menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

  1. I’tikaf

Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari madzhab Maliki, Syafii, dan Hambali. Dalilnya, firman Allah ,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُباً إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…(QS. An-Nisa: 43).

Kemudian ibadah-ibadah tersebut, masih banyak amalan ibadah lain yang bisa dilakukan wanita haid baik ketika datang waktu sholat maupun diluar waktu sholat. Diantaranya,

  1. Membaca Al-Quran tanpa menyentuh lembaran mushaf. ini adalah pendapat empat madzhab, Hanafiyyah (dalam kitab Al-Mabsuth 3/152), Malikiyyah (dalam kitab Mukhtashar Al-Khalil hal: 17-18), Syafi’iyyah (dalam kitab Al-Majmu’ 2/67), Hanabilah (dalam kitab Al-Mughny 1/137). Kemudian boleh pula menyentuh ponsel atau tablet yang ada konten Al-Qurannya. Karena benda semacam ini tidak dihukumi Al-Quran. Sehingga, bagi wanita haid yang ingin tetap menjaga rutinitas membaca Al-Quran, sementara dia tidak memiliki hafalan, bisa menggunakan bantuan alat, komputer, atau tablet atau semacamnya.
  2. Berdzikir dan berdoa. Baik yang terkait waktu tertentu, misalnya doa setelah adzan, doa seusai makan, doa memakai baju atau doa hendak masuk WC, dll.
  3. Membaca dzikir mutlak sebanyak mungkin, seperti memperbanyak tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), dan zikir lainnya. Ulama sepakat wanita haid atau orang junub boleh membaca dzikir. (hal ini sebagaimana tercantum dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 25881)
  4. Belajar ilmu agama, seperti membaca buku-buku islam. Sekalipun di sana ada kutipan ayat Al-Quran, namun para ulama sepakat itu tidak dihukumi sebagaimana Al-Quran, sehingga boleh disentuh.
  5. Mendengarkan ceramah, bacaan Al-Quran atau semacamnya.
  6. Bersedekah, infak, atau amal sosial keagamaan lainnya.
  7. Menyampaikan kajian, sekalipun harus mengutip ayat Al-Quran. Karena dalam kondisi ini, dia sedang berdalil dan bukan membaca Al-Qur’an.

Dan masih banyak amal ibadah lainnya yang bisa menjadi sumber pahala bagi wanita haid. Karena itu, tidak ada alasan untuk bersedih atau tidak terima dengan kondisi haid yang dia alami. Wallohu a’lam. (Admin/H)

%d bloggers like this: