Oleh: Ibrohim Bafadhol, M.Pd.I

Alloh subhanahu wa ta’ala memperkenalkan diri-Nya sebagai alHalim (Yang Maha Penyantun).

 وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“…Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”.  (QS. Al-Maidah [5]: 101)

Alloh memerintahkan agar kita mengetahui bahwa Alloh ta’ala adalah alHalim.

 وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“…Dan ketahuilah bahwa Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. (QS. al-Baqoroh [2]: 235)

Artinya, ketika seorang hamba tidak mengenal bahwa Alloh subhanahu wa ta’ala Maha Penyantun, maka ia seorang yang mengabaikan dan durhaka kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.

Penjelasan arti al-Halim

Al-Halim, menurut penuturan Khotthobi rohimahulloh, berarti Dzat Yang Pemaaf dan penyabar, yang tidak pernah terpicu oleh kemarahan, dan yang tidak pernah kesal oleh tindakan bodoh orang yang tidak tahu atau orang yang memang durhaka.

Sejauh mana kesantunan Alloh itu?

Kalau tidak karena santun, maaf, dan kasih sayang Alloh, niscaya kehidupan di muka bumi ini akan Dia binasakan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

 وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا 

“Dan kalau sekiranya Alloh menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Alloh menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Alloh adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”. (QS. Fathir [35]: 45)

Tindakan bodoh dan semaunya sendiri orang-orang musyrik dan kafir itu, sudah sampai pada tahap mengharuskan-Nya untuk menurunkan adzab kepada mereka. Namun demikian, yang Maha Penyantun tetap santun dan memaafkan hingga batas waktu tertentu.

 وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ ۚ وَلَوْلَا أَجَلٌ مُسَمًّى لَجَاءَهُمُ الْعَذَابُ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ 

“Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan adzab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang adzab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya”. (QS. al-Ankabut [29]: 53)

Kesantunan Alloh itu terlihat dalam kesabaran-Nya terhadap ulah orang-orang musyrik, orang-orang kafir, orang-orang yang durhaka, dan orang-orang yang suka melakukan perbuatan dosa. Anda lihat sendiri orang-orang yang sesat itu menjadikan sekutu bagi Alloh ta’ala, menentang Alloh dan Rosul-Nya, membangun kekuatan perang untuk memerangi Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, para sahabat dan pengikutnya, padahal Alloh mampu menghancurkan mereka. Tapi lihatlah, Alloh subhanahu wa ta’ala tetap bersabar dan memaafkan mereka, bahkan memberi rezeki, makan dan minum, menurunkan kitab-kitab-Nya, mengutus para Rosul-Nya, mengemukakan hujjah, dan tetap menunggu taubat dan kesadaran mereka untuk kembali kepada keimanan dan keislaman.

Tetang hal ini, Abdulloh bin Qois berkata Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Tak ada yang lebih sabar mendengar gangguan, dibandingkan Alloh. Orang-orang menjadikan tandingan bagi-Nya, dan menganggap-Nya memiliki anak. Namun demikian, Dia tetap memberi rezeki, mamaafkan, dan tetap memberi kepada mereka” (HR. Muslim)

Takutlah kepada kemurkaan Yang Maha Penyantun

Tetapi, bila Alloh sudah murka, tak ada yang dapat membendungnya: murka-Nya sangat besar. Dia telah menerangkan kepada kita apa yang telah Dia lakukan kepada orang-orang kafir dan dholim sebelum kita.

 فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ 

“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut)”. (QS. Az-Zukhruf [43]: 55)

 كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ 

“(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat kami; karena itu Alloh menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Alloh sangat keras siksa-Nya”. (QS. Ali-Imron [3]: 11)

Penyandingan al-Halim Dengan al-Ghofur, al-Ghoni, dan al-Alim

Alloh subhanahu wa ta’ala menyandingkan sifat santun-Nya dengan Maha Pengampun,  di samping dengan sifat tidak butuh dan Maha Tahu. Penyandingan dengan ampunan, misalnya,

 وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. al-Baqoroh [2]: 225)

Maha Pengampunan mau tidak mau juga Maha Penyantun, karena antara sifat ini saling berhubungan dan terkait erat.

Penyandingan dengan sifat tidak butuh, misalnya dalam ayat:

 وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Alloh Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. (QS. al-Baqoroh [2]: 263)

Penyandingan keduanya menunjukkkan bahwa kesantunan Alloh subhanahu wa ta’ala bukan karena Dia butuh. Alloh subhanahu wa ta’ala santun kepada hamba-hamba-Nya, tetapi Dia tidak butuh  dan tidak ingin pamrih kepada mereka.

Contoh penyandingan al-Halim dengan al-‘Alim (Yang Maha Tahu),

 وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

“dan Alloh Maha mengetahui lagi Maha Penyantun”. (QS. an-Nisa [4]: 12)

Penyandingan Yang Maha Tahu dengan kesantunan menunjukkan bahwa kesantunan Alloh tidak berarti bahwa Dia tidak mengetahui perbuatan orang-orang yang menyimpang. Alloh ta’ala Maha Mengetahui hamba-Nya, tidak ada yang tertutup dari pengetahuan-Nya. namun, meski mengetahui kekufuran, kemusyrikan, kesesatan, makian, dan kedustaan mereka, Dia tetap bersabar, tetap memberi rezeki, dan tetap bersikap santun kepada mereka. Ini sama sekali berbeda dengan orang yang bersikap santun terhadap orang yang berniat buruk kepadanya karena memang dia tidak tahu niat buruk di hati orang tersebut. Ini tidak masuk bab kesantunan, tetapi ketidaktahuan.

Kecintaan Alloh terhadap orang-orang mukmin yang santun.

Alloh subhanahu wa ta’ala mencintai hamba-Nya yang santun. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam pernah berkata kepada salah satu sahabatnya, yang baru pertama kali bertemu dengannya yaitu Asyaj Abdul Qais rodhiallohu anhu:

“Sesungguhmya ada dua sifat dalam dirimu yang sangat disukai Alloh, santun dan sabar.” (HR. Muslim)

Orang yang penyantun sangat disenangi sesama hamba Alloh, seperti halnya Dia juga menyenanginya, karena orang penyantun jauh dari marah, bersikap tenang, teguh, dan sabar, banyak memberi maaf terhadap perlakuan buruk orang lain kepadanya, suka menutupi kesalahan orang lain, menjaga nilai-nilai cinta, menepati janji, tidak terpancing oleh tindakan orang-orang yang tidak tahu, dan tidak buru-buru membalas dengan hukuman meski hal itu mampu dia lakukan.

Demikianlah apa yang bisa kita ulas pada edisi kali ini semoga bermanfaat dan semoga Alloh subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kepada kita semua sifat santun, dengan itu kita menjadi hamba-hamba Alloh yang dicintai-Nya. amin, Wallohu ta’ala a’lam…

Sumber: “al-Asma’ al-Husna”, Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqor

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05