Oleh: Ust. Solahudin, Lc., M.A.

Para kesempatan kali ini ini, kita akan membahas tentang “AL-QUR`AN DI HATI SEORANG MUSLIM”. Semoga melalui pembahasan ini, Allah subhanahu wa ta’ala menambahkan hidayah-Nya kepada kita semua.

Allah ta’ala berfirman:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka. Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. al-Hadid: 16)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan bahwa Rasul-Nya kepada-Nya tentang tingkah laku mereka yang mulai meninggalkan al-Qur`an:

“Berkatalah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: wahai Robb-ku, sungguh kaumku telah meninggalkan Al Quran” (QS. al-Fur`qan: 30)

Makna ditinggalkannya al-Qur`an adalah meninggalkan dengan tidak membacanya, tidak merenungi maknanya, tidak menjadikannya sebagai rukyah dan tidak mengamalkan isinya.

Al-Qur`an begitu istimewa karena yang menurunkannya adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha sempurna. Al-Qur’an turun dari Raja, Pemelihara, Sesembahan yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui, dan Maha Kasih Sayang.

Kaum mukminin menerima al-Qur’an dengan perasaan bahagia campur perasaan hormat, siap melaksanakan perintah dan perasaan cemas dan harapan, serta perasaan kerinduan yang amat dalam, bagaimana tidak? Karena orang yang membaca al-Qur’an berarti seakan mendapat kehormatan bermunajat dengan Allah ta’ala sekaligus seperti seorang prajurit yang menerima perintah dari atasan dan seorang yang mencari pembimbing mendapat pengarahan dari Dzat yang Maha Mengetahui. Dan perasaan inilah yang digambarkan oleh Allah ta’ala dalam Firman-Nya:

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)

Perasaan tersebut menyebabkan Ummu Aiman menangis ketika teringat akan wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Suatu saat Abu Bakar dan Umar berkunjung kepada ibu asuh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Ummu Aiman, dan ketika Abu Bakar dan Umar duduk, menangislah Ummu Aiman karena teringat wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, maka berkatalah Abu Bakar  dan  Umar, “Kenapa anda menangis, sementara Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mendapatkan tempat yang mulia” ? Ummu Aiman menjawab, “Saya menangis bukan karena meninggalnya beliau, melainkan karena  terputusnya wahyu Allah subhanahu wa ta’ala yang datang kepada beliau pada pagi dan petang hari”, maka saat itu pula, meledaklah tangisan mereka bertiga .

Dari perasaan tersebut para sahabat membaca dan menerima Al-Qur’an untuk dilaksanakan secara spontan tanpa menunggu-nunggu dan tanpa protes sedikitpun.

Ketika turun perintah untuk memakai jilbab pada surat Al Ahzab ayat lima sembilan, malam hari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyampaikan ayat tersebut kepada para sahabat , pagi harinya para istri sahabat sudah memakai jilbab semua, bahkan `Aisyah radhiallahu anha mengatakan, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor, mereka diperintah untuk memakai hijab pada malam harinya sementara pada  paginya mereka sudah memakainya, bahkan ada yang merobek kelambu mereka untuk dijadikan jilbab”.

Ketika diharamkannya khomer dan ayat tentang khomer sampai kepada mereka, saat itu juga mereka langsung membuang simpanan khomernya dan membuang apa yang masih berada pada tangannya.

Salah satu rahasia keajaiban para sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah keimanan mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, beriman dengan surga dan neraka-Nya, juga kepada janji-Nya, sehingga mereka melakukan sesuatu yang apabila dilihat oleh orang yang tidak memahami latar belakang ini akan sulit menafsirkannya.

Seperti ketika mereka membaca tentang janji Allah subhanahu wa ta’ala buat orang-orang yang berjihad karena cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seorang sahabat yang bernama Umair bin Hamam sedang makan kurma bertanya, “wahai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Di mana saya kalau saya mati dalam perang ini?, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab “Di surga”, berkatalah Umair: “Sungguh menunggu waktu masuk surga sampai  menghabiskan makan kurma tujuh biji ini adalah sangat lama”, dan akhirnya dibuanglah sisa kurma yang belum dimakan dan langsung memasuki pertempuran sampai menemui syahidnya.

Keimanan yang tinggi dari para sahabat, menjadi bagian dari episode kehidupan, untuk menjadi bagian dari yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an, sebagaimana perhatian orang-orang Anshor terhadap orang-orang Muhajirin atau perhatian mereka terhadap orang-orang yang lemah, seperti yang Allah ceritakan dalam surat Al-Hasyr, dimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kedatangan tamu dan beliau tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya, akhirnya beliau tawarkan hal itu kepada sahabatnya, siapa yang bersedia membawa tamu saya? Dengan spontan salah satu sahabat menjawab; saya bersedia Rasulullah! Tetapi ketika sampai di rumah, ternyata istrinya berkata bahwa tidak ada persediaan makanan kecuali makan malam anaknya, maka sahabat tadi memerintahkan istrinya agar mengeluarkan makanan untuk menjamu tamunya dan mengeluarkan dua piring, kemudian segera mematikan lampu ketika tamunya sedang makan, tuan rumah menampakkan seakan-akan ikut makan bersama, agar dia bisa makan dengan enak,  ketika sampai pagi hari sahabat tadi bertemu dengan Rasulullah  shalallahu alaihi wasallam dan beliau memberitahu bahwa Allah kagum dengan apa ia lakukan, maka turunlah firman Allah ayat kesembilan dari surat al Hasyr.

Subhanallah, luar biasa!, demikianlah kepribadian orang-orang shaleh terdahulu. Lantas bagaimana dengan kita, sahabat muda?, Sudahkah kita meneladani mereka?, sudah semestinya dan sudah saatnya kita meneladani generasi terbaik umat ini. Kemudian menoreh sejarah gemilang di masa yang akan datang dengan memaksimalkan waktu yang kita miliki untuk melaksanakan hal-hal yang mendatangkan keridhoan Allah, amiin. Semoga kita bisa mengikuti jejak mereka. Wallahu a’lamu bisshowab.