Oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.

Dalam Islam, al-Qur’an adalah kitâbulloh yang suci. Makna dan huruf al-Qur’an bersumber dari Alloh subhanahu wa ta’ala. Dia menurunkan al-Qur’an kepada Rasulullah sholallohu alaihi wasallam melalui perantara malaikat Jibril a.s. dan menjadikannya sebagai mu’jizat Rasulullah sholallohu alaihi wasallam.[i] Oleh karena itu, mengimani al-Qur’an merupakan bukti keimanan dan mengingkarinya adalah kekufuran.

Alloh subhanahu wa ta’ala menjadikan al-Qur’an sebagai sumber hukum utama yang mutlak benar, petunjuk bagi hamba-hamba-Nya dan pedoman bagi seluruh ummat manusia.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)

Al-Bukhori meriwayatkan dari Anas ibn Mâlik bahwa Umar rodhiallohu anhu berkata, “Dan inilah kitab (al-Qur’an) yang mana Alloh ta’ala telah memberi petunjuk Rosul kalian maka ambilah niscaya kalian akan diberi petunjuk karena sesungguhnya hanya dengannya Alloh memberi petunjuk Rosul-Nya.” (HR. al-Bukhori)

Di antara konsekuensi makna al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia adalah mengikuti al-Qur’an menjadi suatu keharusan bagi seluruh manusia, dan balasan rahmat Alloh subhanahu wa ta’ala akan diberikan kepada yang mengimani al-Qur’an.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

 “al-Qur’an ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat.” (QS. Al-An’aam [6]: 155)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai berai.” (QS. Ali Imron [3]: 103)

Sa’id ibn Mansur, Ibn Abȗ Syaibah, Ibn Jarîr, Ibn al-Mundzir dan al-Suyȗti mengatakan bahwa sanadnya shahîh meriwayatkan dari Ibn Mas’ȗd r.a. tentang firman Alloh “Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh” beliau berkata, “Tali agama Alloh adalah al-Qur’an.”

Perintah untuk mengikuti al-Qur’an mengandung konsekuensi dilarangnya berpaling dari al-Qur’an. Alloh subhanahu wa ta’ala memberi balasan tidak tersesat dan tidak celaka bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Dia pun mengncaman orang yang berpaling dari petunjuk Alloh subhanahu wa ta’ala dengan kehiduopan yang sempit.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى . وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka, dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thoha [20]: 123-124)

Ibn Abi Syaibah, al-Thabrani, Abu Nu’aim dan Ibn Mardawaih meriwayatkan dari Ibn Abbas rodhiallohu anhu. bahwa Rasulullah sholallohu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengikuti kitabullah niscaya Alloh memberinya hidayah dari kesesatan di dunia dan menjaganya dari buruknya siksaan pada hari kiamat.”

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibn Abbas rodhiallohu anhu. bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya Alloh telah menjamin bagi orang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak hidup sempit di akherat.” (HR. al-Hakim dan dishahihkan olehnya serta disepakati oleh al-Dzahabi)

Dengan demikian, maka jelaskan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan Alloh subhanahu wa ta’ala sebagai pedoman hidup yang harus diikuti isi kandungannya. Maka, pemahaman yang benar dalam menafsirkan al-Qur’an merupakan perkara mendasar dalam memastikan kebenaran dalam memahami Islam. Jika al-Qur’an dipahami tidak sebagaimana mestinya maka dipastikan keliru dalam memahami Islam. Oleh karenanya, seseorang yang diberi pemahaman yang benar tentang al-Qur’an maka dia sesungguhnya telah diberi anugerah yang banyak dari Alloh subhanahu wa ta’ala.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Alloh menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang alQuran dan al-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakAlloh yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Alloh).(QS. al-Baqoroh [3]: 269)

 

FOOTNOTE

[i] Mana’ al-Qothon berkata tentang definisi al-Qur’an: “Kalamulloh yang diturunkan kepada Muhammad sholallohu alaihi wasallam. yang membacanya adalah ibadah.” Lihat, Mabâhits Fi Ulȗm al-Qur’an, Beirut: Mu’asasah ar-Risalah, 1998, Hlm. 20.

Ibn Hajar al-Asqalâni berkata, “Yang lebih selamat dalam masalah ini adalah meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalamulloh bukan makhluk, ini adalah pendapat yang lebih selamat dari berbagai pendapat karena banyaknya kerancuan masalah ini dan larangan (ulama) salaf mendalami masalah tadi.” Lihat, Ibn Qudâmah, Roudah al-Nâdhir, Tahqîq Abd al-Karîm al-Namlah, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, Jilid 1, Hlm. 266.

Definisi ini merupakan bantahan bagi kaum Liberal yang mengatakan al-Qur’an adalah makhluk. Di antara dalil-dalil yang secara langsung menyebut al-Qur’an adalah kalâmulloh adalah QS. al-Taubah: 6, QS. al-Baqoroh: 75 dan QS. al-Fath: 15.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05