Al-Quran bisa diumpamakan sebagai hidangan yang diberikan Allah kepada kaum mukmin. Alquran merupakan ‘hidangan spesial’ Allah Subhanahu wata’ala. Hidangan kemuliaan ini tentu harus dinikmati dan dimaknai. Memaknai Alquran identik dengan membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan pesan-pesan moral dan spiritualnya dalam kehidupan.

Dengan begitu, Alquran sebagai petunjuk atau huda bagi kehidupan manusia dapat berfungsi. Hanya saja, menikmati dan memaknai ‘hidangan Ilahi’ memerlukan kerendahan hati dan keterbukaan diri sehingga al-quran bisa diterima di hati dan menjadi cahaya dan obat bagi hati, selain itu, dengan al-quranlah kita mendapatkan rahmat dan keberkahan dalam kehidupan.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi disebutkan bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda yang artinya.

Alquran adalah jamuan Allah, karena itu pelajarilah jamuan Allah itu dengan segenap kekuatan dan kemampuanmu. Sesunggunya Alquran merupakan tali Allah, cahaya yang menerangi, obat yang mujarab, pelindung bagi orang yang berpegang kepadanya, penyelamat bagi orang yang mengikuti pesannya, tidak miring sehingga dapat dicela, dan tidak bengkok sehingga perlu diluruskan.

Keajaiban Alquran tidak pernah tuntas. Ia tidak pernah lapuk dan membosankan karena sering dibaca, Maka bacalah Alquran, sebab Allah pasti membalas bacaanmu itu,di mana satu huruf dibalas sepuluh kebaikan.Dan aku tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”

Kita tahu bahwa hidangan makanan itu bisa menghilangkan lapar dan dahaga, menguatkan otot-otot dan saraf di tubuh kita. Membuat tubuh kita tegak. Dan hilangnya rasa lemah dan payah dan juga lelah.

Begitu juga al-Quran, al-quran akan menguatkan ruhani sehingga dia tidak lemah. Jika ruhani lemah, maka hati akan mudah ditunggangi oleh setan dengan nafsu sebagai umpan.

Al-quran mengobati dahaga iman. Iman yang layu dan kering akan kembali segar dengan melantunkan, mendengarkan, memahami dan mengamalkan al-quran. Layaknya makanan yang menguatkan tulang dan otot,  Al-Quran akan menguatkan jiwa ketika terjadi ujian dan fitnah yang mendera. Al-quran menguatkan pijakan kaki kita ketika halangan dan rintangan kita terima dari musuh-musuh islam.

Al-quran juga menghilangkan rasa khawatir, resah dan gelisah, karena al-quran sendiri sebagai obat dan penawar hati.

Sebagian ulama memberikan beberapa tips untuk bisa menikmati interaksi kita dengan al-quran. layaknya kita menikmati hidangan.

Yang pertama, kata beliau, kita harus memahami keagungan firman Allah dan diyakini sebagai bacaan yang paling mulia yang menunjukan keagungan dan ketinggian Allah. Dengan begitu, kita bisa mengagungkan dzat yang Berfirman.

Kemudian dihadirkannya hati, yakni khusyu’ ketika membacanya sehingga bisa memahami ayat demi ayat yang kit abaca. setelah faham, kita hendaknya mentadaburi, bukan sekedar faham, tapi mulai memikirkan apa yang sudah kita fahami,

Begitulah Pembaca, Rasulullah sholallahu alaihi wasalam membuat perumpamaan demikian indah dengan mengibaratkan Alquran sebagai hidangan. Oleh karena itu, mari bersama-sama kita nikmati hidangan Alquran,karena setiap hurufnya terdapat 10 kebaikan.

Alquran  itu ibarat rembulan di malam hari yang cahayanya tidak tertutup oleh awan,keindahan cahayanya tak bisa disembunyikan. Cahayanya menjadi nyata dan telah menjadi inspirasi bagaimana manusia menjalani dan memaknai hidup.

Alquran adalah hidangan Allah yang diturunkan  untuk membuka lebar-lebar mata manusia, agar mereka menyadari jati dirinya dan hakikat keberadaannya di muka bumi.Dengan berpegang kepada Alquran  maka manusia akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akkhirat.

Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: