Oleh: Ust Arifin, M.H.I.

Istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sudah sering kita dengar. Banyak orang atau kelompok yang mengklaim berada di atas pemahaman Ahlus Sunnah. Terkadang timbul konflik akibat klaim tersebut. Setiap mereka merasa dirinya di atas kebenaran, sedangkan kelompok lain adalah menyimpang. Namun, yang lebih penting untuk kita kaji sekarang adalah, siapakah sejatinya Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu?

Mengetahui siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah perkara yang sangat penting dan merupakan bekal bagi setiap muslim yang menghendaki kebenaran. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang benar hanya satu yaitu Ahlus Sunah Wal Jama’ah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahli Kitab terpecah menjadi 72 golongan keagamaan. Sesungguhnya umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan keagamaan. 72 akan masuk Neraka, sedangkan yang satu golongan akan masuk surga, yaitu “al-Jama’ah.” (HR. Abu Daud)

Nabi shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:

“Sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu kelompok keagamaan saja dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok keagamaan, yang semuanya di Neraka kecuali satu kelompok keagamaan. ’Para sahabat bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Mereka yang mengikuti jejakku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi)

Berdasarkan dua hadits yang telah disebutkan tadi, maka yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang mengikuti jejak Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya dalam memahami dan mengamalkan Islam.

Ahlus Sunah wal Jama’ah juga berpegang teguh pada cara beragama yang telah ditempuh oleh tiga generasi terbaik umat ini. Yaitu generasi sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in. Sehingga siapapun yang mengikuti jejak mereka dalam memahami dan mengamalkan islam, maka mereka adalah Ahlus Sunah Wal Jama’ah.

Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah manhaj umat Islam secara umum, bukanlah milik suatu organisasi tertentu saja. Jadi, pemahaman bahwa NU adalah Ahlus Sunnah sedangkan Muhammadiyah, Persis, atau lainnya bukanlah Ahlus Sunnah adalah pemahaman yang salah lagi keliru.

Karena setiap organisasi harus diukur berdasarkan manhajnya atau cara beragamanya, apakah manhajnya Ahlus Sunah atau bukan? Demikian juga personal-personalnya, masing-masing diukur berdasarkan manhaj keagamaannya.

Ketika Ahlus Sunah adalah orang-orang yang mengikuti kepada Sunah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan mengikuti para sahabatnya, maka mereka juga disebut Ahlul Hadis, Ahlul Atsar, dan Ahlul Ittiba’. Mereka juga disebut ath-Thoifatul Manshuroh yaitu golongan yang mendapatkan pertolongan Allah, atau juga al-Firqotun Najiyah yaitu golongan yang selamat dan al-Ghuroba yaitu generasi terasing di akhir zaman karena tetap berpegang teguh terhadap islam yang murni ditengah-tengah kemaksiatan yang merebak.

Tentang ath-Thoifatul Manshuroh ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Senantiasa ada golongan dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka senantiasa eksis hingga hari kiamat.” (HR. Muslim)

Sedangkan, berkaitan dengan penamaan al-Ghuroba, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Islam datang dalam keadaan terasing, dan kelak akan kembali terasing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim)

Adapun makna al-Ghuroba, adalah sebagaimana dalam hadis dari Abdulloh bin Amr bin al-Ash radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang sholih yang hidup di tengah masyarakat yang didominasi oleh orang-orang yang buruk. Orang yang menentang orang-orang sholih lebih banyak daripada yang menaatinya.” (HR. Ahmad)

Sedangkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda tentang makna al-Ghuroba:

Yaitu, orang-orang yang senantiasa memperbaiki umat di tengah-tengah kerusakan manusia.” (HR. Thobroni)

Penamaan istilah Ahlus Sunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu generasi sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in. Dalil yang mengatakan hal ini, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Pada hari kiamat, wajah-wajah manusia ada yang putih dan berseri-seri, dan ada pula yang bermuram durja.  Adapun mereka yang wajahnya bermuram durja, para malaikat berkata kepada mereka, “Bukankah kalian dahulu di dunia kafir setelah kalian beriman? Karena itu, sekarang rasakanlah siksa api neraka akibat kekafiran kalian.” (QS. Ali Imron: 106)

Berkaitan dengan ayat tersebut, Abdulloh bin Abbas radhiallahu anhu berkata, “Adapun orang yang wajahnya putih berseri mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sedangkan orang yang bermuram durja wajahnya, mereka adalah orang yang membuat amalan baru dalam agama yang tidak dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan sesat.”

Istilah Ahlus Sunnah ini, kemudian diikuti oleh seluruh ulama Salaf, di antaranya:
Pertama, Imam Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah berkata, “Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.”

Yang kedua, Imam Sufyan ats-Tsaury rahimahullah berkata, “Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang teguh kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-Ghuroba. Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Selanjutnya Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullah berkata tentang istilah Ahlus Sunnah ini, “Para Imam Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Iman itu keyakinan, perkataan, dan perbuatan.”

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata dalam muqoddimah kitabnya, As-Sunnah: “Inilah mazhab Ahlul ‘Ilmi, Ashabul Atsar, dan Ahlus Sunah. Mereka dikenal sebagai pengikut sunah Rasul  dan para sahabatnya, semenjak zaman para sahabat hingga pada masa sekarang ini…”

Selain itu Imam Ibnu Jarir ath-Thobari rahimahullah berkata pula tentang Ahlussunnah, “Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum Mukminin akan melihat Allah pada hari Kiamat, maka itu merupakan agama yang kami anut, dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa penghuni surga akan melihat Allah sesuai dengan berita yang shohih dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.”

Begitu juga Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad ath-Thohawi rahimahullah berkata dalam muqoddimah kitab Aqidah Thohawiyah, “Ini adalah penjelasan tentang aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah.”

Sedangkan Imam Hasan Basri rahimahullah berkata, “Wahai Ahlussunnah, berlemah-lembutlah dengan sesama karena kalian paling sedikit jumlahnya!

Dan Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Sebelum terjadi fitnah, masalah sanad tidak pernah dipertanyakan. Setelah terjadi fitnah, mulailah dipertanyakan. Jika sanad haditsnya dari Ahlussunnah, maka diambil riwayatnya. Namun jika sanadnya dari ahlul bid’ah, maka ditolak riwayatnya.”

Dan yang terakhir, Imam Abu Hatim rahimahullah dan Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Kami mengikuti Sunah dan Jamaah.

Dari riwayat-riwayat tersebut, maka jelaslah bagi kita bahwa istilah Ahlus Sunnah sudah dikenal di kalangan Salaf yaitu generasi awal umat ini dan para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak sebagai lawan kata Ahlul Bid’ah.

Para ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang aqidah Ahlus Sunnah agar umat paham tentang aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan Ahlul Bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Imam al-Barbahari, dan Imam ath-Thohawi rahimahumullah serta yang lainnya.

Demikianlah pengertian Ahlussunnah dan penggunaan istilah nama Ahlussunnah. Insya Allah  pembahasan tentang Ahlussunnah akan dilanjutkan di edisi yang akan datang dengan pembahasan yang menarik lainnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua Amin, Wallahu Ta’ala a’lam.