Judul di atas bukanlah hal baru dalam istilah, bahkan dua kata tersebut menjadi sangat familiar di telinga kita ketika salah satu sinetron yang ditayangkan di sebuah televisi swasta menampilkannya sebagai judul acara tersebut. Lantar, apa menariknya dua kata tersebut?

Pertanyaan yang menarik untuk kita telusuri bersama. Ya… “Islam KTP”, sebuah label atau cap yang diberikan kepada seseorang yang mengaku beragama Islam, akan tetapi tidak menjalankan apa yang menjadi kewajibannya dalam beragama.

Jika mau jujur, ternyata keIslaman kita memang harus senantiasa dibuktikan dengan amalan nyata. Karena dalam sebuah kaidah syar’I bahwa yang namanya keimanan itu harus terwujud pada ucapan dan perbuatan. Jika kita yakin akan kebenaran agama ini, maka harus dibuktikan dengan amal perbuatan, menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Kita masih perlu mengajak diri kita kepada Islam, sekalipun kita sudah menyatakan beragama Islam, karena kenyataan yang ada sekarang ini kita belum mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam dan belum berkomitmen terhadap ajaran Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita belum sanggup hidup dengan kehidupan yang Islami sebagaimana tuntunan Alloh subhanahu wa ta’ala kepada kita. Jadi, sampai sekarang kita belum bisa menerapkan Islam dalam semua aspek kehidupan. Buktinya, sudah Islamikah keluarga kita? Manakah Islam dalam pendidikan kita? Manakah Islam dalam masyarakat kita?

Terus terang, kita hidup berada di tepi Islam, belum menyeluruh (total). Oleh karena itu, kita harus kembali kepada Islam agar menjadi Muslim sejati, disamping agar sempurnalah segala nikmat yang dianugerahkan Alloh kepada kita, sebagaimana yang Alloh ta’ala jelaskan kepada kita. Perhatikan firman-Nya:

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu Jadi agama bagi kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)

Kita berkewajiban mengajak diri kita kepada Islam dan mengamalkan ajaran Islam. Kita perlu mengajak diri kita untuk kembali kepada Islam dan untuk meniti kehidupan Islami yang hakiki, yaitu kehidupan Islami yang bersifat komprehensif, yang selalu mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari aqidah Islam. Kehidupan yang senantiasa diatur oleh peraturan Islam dan dikendalikan oleh akhlak Islam.

Kita menginginkan kehidupan yang Islami. Kita sangat mendambakan bisa hidup di bawah panji peradaban Islam yang bersifat utuh, yaitu peradaban yang dibimbing oleh aqidah Islam. Peradaban yang diatur dan diarahkan oleh sistem Islam. Peradaban yang dikendalikan oleh akhlak Islam. Peradaban yang dimotori oleh motif-motif yang Islami dan perasaan-perasaan yang Islami pula, dan peradaban yang diikat oleh ukhuwah Islamiyah (ikatan persaudaraan Islam).

Harapan yang membumbung tinggi sangat diperlukan agar kita termotivasi untuk mewujudkannya. Tapi jika kita tidak memulai dengan diri kita sendiri, maka harapan itu tinggalah harapan. Oleh karena itu, konsep penerapan syariat untuk membuktikan keimanan kita adalah dimulai dengan diri sendiri.

Kalau kita berkaca pada syariat Islam yang bersifat individu, maka kita akan dihadapkan pada serangkaian aktifitas keta’atan yang sangat banyak dan padat. Dimulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Sholat lima waktu, puasa Romadhon, zakat fitrah, menikah dan lain-lain. Ini semuanya adalah peribadatan yang hanya dilakukan oleh individu manusia.

Jika kita sudah mempelajari dan memahami dengan benar apa yang menjadi tuntutan syariat Islam untuk individu, maka tidak ada istilah lagi untuk berleha-leha dengan kehidupan kita. Sholat dikerjakan lima kali sehari, belum lagi sholat-sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir pagi dan petang, semuanya adalah aktifitas keta’atan yang sangat besar pahalanya.

Ketika kita istiqomah menjalankan semua kewajiban kita sebagai seorang muslim secara kaffah, maka dengan sendirinya istilah “Islam KTP” tidak perlu ada lagi di muka bumi ini. Semuanya akan menjadi Muslim yang sejati, yang menjalankan keislamannya penuh dengan keta’atan dan ketakwaan.

Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan keistiqomahan kepada kita semuanya untuk senantiasa berada di atas jalan yang lurus, jalan Islam itu sendiri.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05