Saling memaafkan adalah ajaran agama Islam, baik ayat al-Qur’an maupun hadits Rosululloh sholallohu alaihi wasallam banyak menyinggung dan sekaligus mengajarkan kepada kita agar membuka pintu maaf bagi saudaranya yang lain. Karenanya penting bagi kita untuk mendidik anak-anak kita dengan ajaran agama Islam agar mereka terbiasa membuka pintu maaf serta meminta maaf dengan sesamanya.

Namun bagaimana, seringkali anak diajarkan tentang akhlak Islam yang mulia ini, tetap saja, di antara anak kita, atau antara anak kita dengan temannya tak henti-hentinya berkelahi dan enggan untuk saling memaafkan, seakan-akan pelajaran untuk saling memaafkan yang sudah berulangkali kita sampaikan tak memiliki bekas apa-apa di dalam jiwa sang anak?

Tak sedikit orang tua yang mengalami keadaan seperti itu, maka yang pertama dan harus segera dipahami oleh kita adalah bahwa ada terlalu banyak masalah, yang bisa menyebabkan dua anak berkelahi. Semuanya wajar, sebagai proses pembelajaran dalam mengurangi rasa ke”aku”annya. Dalam proses untuk bisa memahami dan menghormati hak teman, justru ketika seorang anak tak pernah bertengkar, selalu mengalah dan menghindari perselisihan, maka perkembangan kepribadian mereka cenderung menjadi pasif dan tak memiliki inisiatif. Tak perlu kita cemas, terhadap perselisihan antara anak.

Hebatnya, mereka bisa segera dan secepat mungkin melupakan perselisihan itu. Jarak berpikir mereka demikian pendeknya, sehingga apa yang sudah terjadi bisa telupakan dengan demikian cepatnya. Adu pukul yang terjadi pagi hari, bisa segera disambung main bersama di siang harinya. Saling tendang di sore hari, pagi harinya bisa bercanda dan berangkat sekolah sama-sama. Seperti itulah fitrah mereka. Subhanalloh.

Nah, inilah yang harus kita pahami terlebih dahulu dari sisi pola pikir anak-anak. Setelah itu, kita baru dapat menanamkan nasehat-nasehat berharga tentang pentingnya akhlak saling memaafkan sehingga segala bentuk perselisihan yang terjadi di antara mereka dapat berakhir dengan indah.

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua agar menumbuhkan sikap saling memaafkan kepada anaknya:

  1. Jangan Memperuncing Masalah

Fitrah permusuhan dan perdamaian bisa begitu cepat terjadi karena merupakan fase normal perkembangan anak. Tetapi, jika ada pihak ketiga yang mengganggu, menghambat dan terlalu banyak campur tangan di dalamnya, fitrah ini bisa rusak dan tak lagi berlaku.

Kenyataan yang sering terjadi, orang tua kerap mencampuri dunia anak ini dan merusak fase perkembangan yang rapi tadi.

Kecintaan yang  terlalu besar kepada buah hati, kerap menyebabkan orang tua tak rela anaknya disalahkan, diejek dan dihina. Ibu yang over protective (terlalu melindungi) akan segera bereaksi untuk membela keselamatan dan harga diri anak. Reaksi mencampuri dunia perselisihan anak inilah yang justru semakin memperuncing perselisihan tersebut, bahkan bisa berkembang menjadi pertengkaran antar ibu, antar orang tua, bahkan antar keluarga..!!

  1. Pilih Waktu yang Tepat.

Yang kedua, yang tak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu agar jangan sampai kita memberikan nasehat untuk meminta maaf atau memberi maaf di saat kondisi anak sedang emosi. Kita nasehatkan mereka di tengah perkelahian mereka. Ini sama saja melempar “pepesan kosong”. Tidak ada artinya. Pun dengan memaksa sang anak dengan bentakan atau hardikan. Mungkin, sang anak mau menghulurkan tangannya, tetapi yang ia lakukan bukan karena ketulusan, melainkan keterpaksaan yang tidaklah memberikan manfaat selain melahirkan rasa sakit yang bertambah-tambah.

  1. Besarkan Jiwa Kesatrianya.

Orangtua terkadang perlu diingatkan: sungguh, butuh keberanian luar biasa bagi seorang anak untuk memohon maaf atas kesalahannya.

Dia harus melawan keengganannya mengakui kesalahan. Belum lagi harus memohon maaf. Plus tekad kuat untuk tidak mengulangi. Dia sudah memikirkan itu semua sebelum dia melangkah untuk memohon maaf kepada sesama maupun orang tua yang berusaha menasehatinya.

Maka, tidakkah sebaiknya orang tua juga menghargai usaha luar biasa dari sang anak dengan tidak menambahinya dengan kalimat-kalimat “tuh kan” “makanya” dan yang senada dengannya? Bukankah kita hanya ingin anak kita tidak mengulangi perbuatannya lagi?

Atau apakah kita ingin melampiaskan kemarahan kita padanya? Supaya puas? Supaya si anak semakin merasa bersalah? Membuka kembali kesalahan yang merupakan luka lamanya? Apakah kita ingin membuatnya malu? Atau ingin tetap menghukumnya bahkan setelah dia meminta maaf?

Di zaman Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, ada seorang anak muda yang berbohong. Khawat bin Jubair rodhiallohu anhu, namanya. Khawat sedang duduk bersama para wanita ketika Rosululloh sholallohu alaihi wasallam menegurnya. Khawat pun beralasan sedang mencari untanya yang lepas.

Dengan cara dan wibawanya yang luar biasa, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam berhasil membuat Khawat bin Jubair rodhiallohu anhu merasa bersalah dengan kebohongannya. Setelah berulang kali menghindar dari Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, akhirnya terkumpullah keberanian dan tekadnya untuk meminta maaf pada Rosul.

Begini potongan kisahnya:

“Aku (Khawat bin Jubair rodhiallohu anhu) pun berkata dalam hati: “Demi Alloh, aku akan meminta maaf ke Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dan menyenangkan hati beliau.” (selesai shalat) aku berkata: “Demi yang mengutusmu dengan benar, unta itu tidak pernah lepas sejak aku masuk Islam.”  Beliau berkata: “Semoga Alloh merahmatimu… Semoga Alloh merahmatimu… Semoga Alloh merahmatimu.” Dan beliau tidak lagi membahas tentang unta.”

Inilah saatnya introspeksi. Lihatlah bagaimana Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersikap ketika seseorang meminta maaf dan mengakui kesalahan kepadanya. Beliau mendoakan, dan tidak lagi membahas kesalahannya. Bagaimana dengan kita, siap berubah?

Ya Alloh, bimbinglah kami….

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05