Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, kita berjumpa kembali dalam rubrik Adab Islami, yang membahas adab-adab yang selayaknya diamalkan oleh setiap muslim dalam kehidupan sehari-hari. Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang adab terhadap kedua orang tua. Pada edisi sebelumnya kita telah mengetahui beberapa adab terkait berbakti kepada kedua orang tua.

Yaitu adab yang pertama. Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah ta’ala dan bermaksiat kepada-Nya,

Kedua. Tidak dibolehkan untuk memanggil bapak atau orang tua kita dengan namanya, atau pun kita duduk sebelum orang tua kita duduk, dan kita tidak boleh berjalan di depan kedua orang tua kita,

Ketiga. Berbakti dan merendahkan diri di hadapan kedua orang tua,

Keempat. Berbicara dengan lemah lembut di hadapan mereka,

Kelima. Menyediakan makanan untuk mereka,

Keenam. Meminta izin kepada mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan lainnya,

Dan ketujuh. Memberikan harta kepada orang tua sebesar yang mereka inginkan,

Adapun adab kepada orang tua kita yang selanjutnya adalah.

Kedelapan. Membuat keduanya ridha dengan berbuat baik kepada orang-orang yang dicintainya.

Kita dianjurkan untuk membuat kedua orang tua kita ridha dengan cara berbuat baik kepada orang-orang yang mereka cintai atau kepada sahabat orang tua kita. Jadi, ketika orang tua kita menyayangi ataupun mencintai seseorang, maka kita pun harus menyayangi orang tersebut dan berbuat baik kepadanya, selama mereka bukan orang-orang kafir.

Hal ini sesuai dengan hadits dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya silaturrahim yang sangat terpuji adalah menjalin tali silaturahim dengan sahabat dekat ayahnya”.

Berbuat baik kepada orang-orang yang dicintai atau sahabat orang tua kita bisa dibuktikan dengan cara memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim ataupun tali ukhuwwah dengan mereka, menunaikan janji-janji orang tua kita kepada mereka, dan lain sebagainya.

Adab yang kesembilan adalah, Tidak Mencela kedua orang tua atau menyebabkan mereka dicela orang lain.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci maki orang tuanya”. Para sahabat bertanya, ‘Yaa Rasulullah, apa ada orang yang mencaci maki orang tuanya?’, Beliau menjawab, “Ada. ia mencaci maki ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencaci maki orang tuanya. Ia mencaci maki ibu orang lain lalu orang itu membalas mencaci maki ibunya”.  (HR. Bukhari & Muslim)

Perkara mencela kedua orang tua ini banyak terjadi saat ini, terutama di kalangan anak-anak atau remaja. Namun terkadang perbuatan tersebut tidak dirasakan oleh mereka, dan dilakukan dengan bercanda atau bergurau, padahal perbuatan ini merupakan perbuatan dosa besar.

Kemudian Adab selanjutnya adalah Mendahulukan berbakti kepada ibu daripada ayah .

Dalam sebuah hadits, diceritakan ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,

“Wahai Rasul Allah. Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?”, beliau menjawab, “Ibumu”. Lelaki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’, Beliau kembali menjawab, “Ibumu”. Lelaki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?”, Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu siapa lagi?, Tanyanya. “Ayahmu,” jawab beliau”. (HR. Bukhari & Muslim)

Maksud ‘lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu’ dalam hadits tersebut adalah bersikap lebih halus dan lembut kepada ibu daripada ayah.

Akan tetapi, hadits ini tidak bermakna kita harus lebih menaati ibu daripada ayah. Karena menaati ayah lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dalam hal yang dibolehkan syari’at. Karena, ibu kita sendiri pun diwajibkan taat kepada suaminya atau bapak kita.

Sebagian Ulama salaf berkata, “Hak ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi”.

Pendengar yang budiman. Adab yang terakhir adalah Mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua daripada berbuat baik kepada istri.

Di antara hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua, lalu mereka tidak bisa keluar, kemudian mereka bertawasul dengan amal baik mereka. Di antara amal mereka ada yang mendahulukan memberi susu untuk kedua orang tuanya, walaupun anak dan istrinya membutuhkan.

Demikian pendengar beberapa adab terhadap kedua orang tua semasa mereka masih hidup. Adapun adab-adab berbakti kepada kedua orang tua ketika orang tua telah meninggal dunia adalah;

Yang pertama. Mengurus jenazahnya dan banyak mendoakan keduanya, karena hal ini merupakan bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya.

Setelah orang tua kita meninggal dunia, maka sudah selayaknya bagi kita untuk Mengurus jenazahnya, menshalatinya, dan mendo’akan keduanya.

Seorang anak hendaknya lebih sering mendo’akan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal daripada ketika masih hidup. Apabila kita sebagai anak mendo’akan orang tua kita yang sudah meninggal, maka kebaikan orang tua kita itu pun semakin bertambah.

Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda;

“Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal; shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya”. (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits ini, do’a dari anak yang sholih untuk kedua orang tuanya akan menjadi tambahan kebaikan bagi orang tuanya walaupun orang tua sudah meninggal.

Kedua. Beristighfar atau memohonkan ampun kepada Allah Ta’ala untuk kedua orang tua kita.

Orang tua adalah orang yang paling utama untuk didoakan agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa mereka dan menerima amal baik mereka.

Adapun do’a dalam masalah ini yang terdapat dalam al Qur’an, adalah apa yang terdapat dalam Qur’an surat Ibrohim ayat 41 yang artinya, “Yaa Robb kami, beri ampunlah aku dan kedua orang tua ku …”.

Ketiga. Menunaikan janji dan wasiat kedua orang tua yang belum terpenuhi semasa hidup mereka, dan melanjutkan amal-amal baik yang pernah mereka kerjakan selama hidup mereka.

Sudah selayaknya bagi kita untuk menunaikan wasiat kedua orang tua kita dan melanjutkan amal baik yang mereka lakukan. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amal baik tersebut dilanjutkan.

Keempat. Memuliakan teman atau sahabat dekat kedua orang tua.

Memuliakan teman atau sahabat kedua orang tua juga termasuk bentuk bakti kita pada orang tua.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim dikisahkan bahwa suatu ketika Ibnu ‘Umar radhiallahu anhu pernah berpapasan dengan seorang arab badui ketika hendak menuju Mekkah. Kemudian Ibnu Umar mengucapkan salam kepadanya dan mempersilahkannya untuk naik ke atas keledai yang ia tunggangi. Selanjutnya ia pun memberikan sorban yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata, “Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu orang badui dan mereka sudah terbiasa berjalan”. Ibnu Umar pun menjawab “Sungguh, dulu ayahnya adalah teman Umar bin Khotob, dan aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya meninggal”.

Kelima. Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat Ibu dan Ayah.

Kita dianjurkan untuk menyambung tali sillaturrahim dengan semua kerabat yang silsilah keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu kita, seperti paman atau pun bibi dari pihak ibu dan dan dari pihak ayah, kakek, nenek dan kerabat lainnya.

Ketika kita melakukan hal itu, berarti kita telah menyambung tali sillaturrohim kedua orang tua kita dan telah berbakti kepada mereka. hal ini berdasarkan hadits shohih riwayat ibnu hibban dari ibnu Umar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal”.

Kemudian yang keenam adalah Memenuhi sumpah atau Nadzar kedua orang tua.

Jika kedua orang tua kita bersumpah atau bernadzar untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi kita untuk memenuhi sumpah atau nazar keduanya karena hal itu termasuk hak mereka.

Semoga petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam berbakti kepada kedua orang tua tersebut dapat kita wujudkan dalam kehidupan kita. Karena hal tersebut merupakan hak mereka sekaligus sebagai kewajiban kita sebagai anak yang shalih untuk melakukannya. Semoga bermanfaat bagi kita semua, dan semoga kita termasuk orang-orang yang tidak pernah melalaikan hak kedua orang tua kita. dan ingatlah satu hal bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memperingatkan kepada kita dengan sabdanya,

“Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka, kemudian hal itu tidak menyebabkan ia masuk surga”.

Semoga pembahasan kali ini bermanfaat. wallahu A’lam.

Artikel berseri: