Tidak pantas adab terhadap Allah Ta‘ala jika seseorang bertakwa kepada-Nya dan taat kepada-Nya, kemudian ia berprasangka bahwa Dia tidak mengganjarnya karena amal perbuatannya yang baik, tidak menerima ketaatan dan ibadahnya.

Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman dalam surat an-Nur ayat 52 yang artinya,

“Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (QS. an-Nur: 52)

Juga firman-Nya di surat an-Nahl ayat 97 yang artinya,

“Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. an-Nahl: 97)

Dan masih banyak ayat-ayat yang semisal dalam maknanya dengan ayat-ayat tadi.

Kesimpulannya, bahwa syukurnya seorang Muslim kepada Allah Ta‘ala atas nikmat-nikmat-Nya, rasa malunya kepada Allah jika ia cenderung bermaksiat kepada-Nya, bertaubat dengan benar, bertawakkal kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya, takut akan siksa-Nya, berbaik sangka bahwa Allah Ta’ala pasti menepati janji-Nya, dan berbaik sangka bahwa Allah Ta‘ala pasti melaksanakan ancaman-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan hamba-hamba-Nya, adalah adab dan etika terhadap Allah Ta’ala.

Semakin kita konsisten dengan etika tersebut dan menjaganya, derajat kita akan semakin tinggi, dan kemuliaan agung hingga kemudian kita berhak mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala, pemeliharaan-Nya, kucuran rahmat-Nya, dan sasaran nikmat-Nya, in syaa Allah.

Demikianlah pembahasan adab-adab terhadap Allah subhanahu wa ta’ala yang harus kita perhatikan, Semoga dengan pembahasan kali ini kita semakin menjaga Hak dan kewajiban kita kepada Allah. Wallahu a’lam.

[Selesai]

Artikel berseri: