Adab terhadap Allah ta’ala yang selanjutnya adalah, meyakini kedahsyatan kekuatan Allah sehingga menjauhi perbuatan maksiat yang akan mengundang murka-Nya.

Seorang mukmin meyakini kedahsyatan kekuatan Rabbnya, kekuatan pembalasan-Nya, dan kecepatan penghisaban-Nya, kemudian ia bertakwa dengan taat dan tidak bermaksiat kepada Allah.

Ini etikanya terhadap Allah Ta‘ala, karena tidaklah masuk akal jika seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya melakukan kemaksiatan kepada Rabbnya Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Kuat, dan Maha Menang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat ar-Ro’d ayat 11,

“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS. ar-Ra’d: 11)

Dan juga Allah berfirman dalam surat al-Buruj ayat 12,

“Sesungguhnya adzab Rabbmu benar-benar keras”. (QS. al-Buruj: 12)

Adab terhadap Allah yang selanjutnya adalah, sangat takut terhadap siksa-Nya jika bermaksiat, dan sangat mengharap serta berbaik sangka ketika melakukan ketaatan kepada Allah terhadap ganjaran dari-Nya.

Orang beriman ketika bermaksiat dan tidak taat kepada-Nya, Ia merasa seolah-olah ancaman Allah Ta’ala telah mengenai dirinya, siksanya telah terjadi padanya, dan hukumannya telah turun padanya. Dan seorang beriman juga melihat kepada Allah Ta’ala ketika taat dan mengikuti syariat-Nya, Ia merasa seolah-olah Allah telah memberikan janji-Nya, dan pakaian keridhoan telah dikenakan padanya. Kemudian ia berbaik sangka kepada Allah.

Seseorang berlaku buruk terhadap Allah Ta‘ala maka ia telah melanggar hak Allah, kemudian ia bermaksiat dan tidak taat kepada-Nya, serta berpendapat bahwa Allah Ta‘ala tidak melihat dirinya, dan tidak menghukumnya atas pelanggarannya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Fushshilat ayat 22-23 yang artinya,

“Namun kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangka kalian yang telah kalian sangka terhadap Tuhan kalian, prasangka itu membinasakan kalian, maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Fushshilat: 22-23)

[Bersambung]

Artikel berseri: