Berinteraksi antara sesama manusia merupakan suatu hal yang pasti, merupakan suatu kebutuhan, karena kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi, apalagi berinteraksi antar sesama muslim. Namun dalam prakteknya, interaksi kita dengan sesama terkadang terasa hambar bahkan terkesan pahit, mengapa?

Hal itu lebih sering disebabkan oleh kurang pahamnya kita terhadap adab dalam bergaul ataupun berinteraksi. Untuk semakin memantapkan pergaulan kita dengan sesama muslim, maka akan kita pelajari bersama terkait adab-adab berinteraksi atau bergaul antar sesama muslim.

Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan tentang hal ini dalam firman Nya,

ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ٦٧

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)

Jadi, dalam ayat ini dijelaskan bahwa pergaulan dengan sesama muslim mempengaruhi di hari kiamat kelak, karenanya kita harus memperhatikan adab pergaulan atau interaksi agar teman-teman kita tidak menjadi musuh.

Adapun di antara adab-adab pergaulan bersama sesama Muslim adalah,

Pertama; Memilih teman bergaul dan teman duduk yang baik agama dan akhlaknya.

Dianjurkan bagi kita untuk memilih teman bergaul dengan baik, sesuai dengan sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Seseorang itu sesuai agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat bersama siapakah dia berteman. (HR. Abu Daud)

Artinya adalah, bahwa seseorang itu sesuai dengan kebiasaan temannya, tingkah laku dan gaya hidupnya, maka hendaknya kita memperhatikan dan meneliti dengan siapakah kita berteman. Jika teman kita bagus agama dan akhlaknya, maka hendaknya kita berteman dengannya, dan kalau sebaliknya, teman kita adalah orang yang buruk agama dan akhlaknya, hendaknya kita menjauhinya, karena tabiat itu adalah sesuatu yang dicuri, diambil dari orang lain, sebagaimana disebutkan dari Abu Sa’id Al-Khudri rahimahullah, ia meriwayatkan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Janganlah kalian berteman kecuali bersama orang yang beriman, dan janganlah ada yang makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”

Larangan ini mencakup larangan bersahabat dengan pelaku dosa besar dan orang yang suka berbuat dosa, karena mereka melakukan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan. Berteman dengan pelaku dosa akan mendatangkan kemudharatan pada agama.

Nabi shalallahu alaihi wasallam memberikan peringatan kepada kita agar tidak berteman bersama orang yang tidak bertakwa, bahkan melarang bercampur baur dan memberi atau mengundang makan kepadanya.

Teman dekat dan teman duduk yang jelek akhlaknya akan memberikan bahaya yang nyata dan tidak dapat dihindari bagaimana pun cara menjaganya,

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Musa Al-Asyari rahimahullah, ia meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Permisalan teman duduk yang shalih dan yang jelek akhlaknya, bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi, adapun penjual minyak wangi, maka dia dapat memberimu minyak wangi, atau kamu membeli minyak wangi darinya, atau kamu mendapatkan bau yang wangi, adapun seorang pandai besi, bisa jadi dia membakar pakaianmu, atau kamu mendapat bau yang tidak sedap darinya.”

Selanjutnya, adab pergaulan yang kedua adalah, Mencintai Karena Allah semata.

Kedudukan persaudaraan yang paling agung adalah ketika perbuatan itu dilakukan dengan karena Allah dan untuk Allah, bukan sekedar untuk mendapatkan kedudukan, atau mendapatkan manfaat duniawi dari hasil pertemanannya, bukan juga karena mendapatkan materi, namun untuk mendapatkan ridha Allah ta’ala. Jangan sampai dalam kecintaan kita kepada teman atau saudara tersebut,

Terselip kepentingan-kepentingan duniawi yang akan mengotori dan menyebabkan kerusakan persaudaraan. Jika kecintaan kita kepada teman dilandasi karena Allah, dan persaudaraan kita pun dilandasi karena Allah, maka sungguh kita telah mencapai puncak tujuan.

Ketika kita mencintai karena Allah, maka hendaknya kita bergembira dengan janji Allah, yaitu hari dikumpulkan seluruh makhluk pada hari kiamat, tidak ada naungan selain naungan Allah. Orang yang mencintai saudaranya karena Allah, akan dinaungi oleh Dzat yang Maha perkasa, Allah azza wa jalla.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat, “Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, pada hari ini Aku akan menaungi mereka di dalam naungan-Ku, di hari tidak ada naungan selain naungan-Ku.”

Dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu, beliau berkata, Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, Kecintaanku diperuntukkan bagi orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, yang duduk-duduk bersama karena-Ku, yang saling mengunjungi karena-Ku, dan saling memberi karena-Ku”.

Kemudian, hendaklah orang yang mencintai saudaranya karena Allah, agar memberitahukan rasa cintanya kepada orang yang dicintainya, karena hal ini sesuai dengan petunjuk Nabi shalallahu alaihi wasallam.

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, ia berkata,

Bahwa ada seseorang yang berada di sisi Nabi shalallahu alaihi wasallam, maka seorang laki-laki lain melewatinya. Laki-laki itu berkata “wahai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, seungguhnya saya mencintai laki-laki ini.” Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?”, Orang itu berkata, Tidak. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Berdirilah dan kabarkanlah kepadanya, maka hal itu akan mengokohkan kecintaan di antara kalian”. Maka Laki-laki yang bersama Nabi shalallahu alaihi wasallam itu pun bangun dan menjumpainya kemudian mengabarkan kepadanya, dia berkata, “Sesungguhnya saya mencintaimu karena Allah.” Kemudian Laki-laki yang lewat itu berkata, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau telah mencintaiku karena-Nya”.

Hal-hal yang juga seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang saling mencintai karena Allah yaitu, agar mereka mengevaluasi diri dan hati mereka dari waktu ke waktu, dan agar mereka melihat apakah kecintaan ini telah tercampur dengan sesuatu yang mengotori kejernihan cintanya atau tidak? Karena kecintaan pada awalnya mungkin ikhlas karena Allah, akan tetapi hal itu tidak tinggal lama apabila orang yang melakukannya lalai, dan berpindah kepada persaudaraan yang mengharapkan saling bergantian memberikan manfaat.

Adab Selanjutnya, yang ketiga adalah, menampakkan senyum, bersikap lembut dan kasih sayang kepada saudara seiman.

Hal yang paling minimal apabila kita menjumpai saudara kita adalah, dengan wajah yang berseri-seri, dan bibir yang tersenyum. Hal ini bagian dari perkara kebaikan dan adab yang seharusnya ditampakkan di antara kita dengan saudara yang lain, yaitu bersikap ramah dan mengulum senyum di wajah, setiap kali kita bertemu atau melihat saudara yang lain.

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu anhu, ia berkata, bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda kepadaku,

“Janganlah seseorang itu meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun dia menjumpai saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Sikap lemah lembut, ramah dan kasih sayang termasuk hal-hal yang menguatkan ikatan di antara saudara, dan memperdalam hubungan di antara kita. Allah Yang Maha lembut mencintai kelembutan, dan memberikan kepada orang yang lembut apa yang tidak dia berikan kepada orang yang kasar.

Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata, Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Diharamkan atas neraka setiap orang yang lemah lembut, mudah dan dekat dari manusia.”

Dan di antara perkara yang dapat membantu kelanggengan rasa cinta dan menghilangkan kebencian dari dalam hati adalah, saling memberi hadiah di antara sesama saudara.

Imam Malik rahimahullah telah meriwayatkan di dalam Muwatho’nya, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Saling berjabatan tanganlah kalian, karena hal tersebut akan menghilangkan rasa dengki, saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai dan menghilangkan kebencian.”

Demikianlah adab bergaul antara sesama muslim, insya Allah pada edisi berikutnya akan kita bahas adab bergaul sesama muslim yang lainnya. Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

Artikel berseri: