Oleh: Abu Azzam Hawari, Lc.

Carut marut pergaulan wanita di zaman ini benar-benar membuat  hati kita miris. Fakta-fakta tentang dampak pergaulan bebas semakin hari semakin membuat kita merinding. Data-data tentang banyaknya kasus zina dan hamil diluar nikah, HIV serta aborsi pun sudah tak terhitung lagi. Yang lebih mengerikan hari ini ada sebagian kalangan yang menginginkan aborsi dilegalkan di negeri ini. Hal ini sama artinya dengan melegalkan sex bebas menjadi budaya di negeri yang mayoritasnya muslim ini.  Dengan demikian seorang wanita tidak lagi takut berzina karena resiko kehamilan bisa diatasi dengan mudah dengan aborsi atau dengan obat dan alat kontrasepsi lainnya.

Pintu gerbang kerusakan diatas adalah pergaulan bebas. Banyak kalangan menganggap pergaulan masalah yang sepele dan remeh terutama dikalangan wanita. Bahkan mereka menuduh islam telah menjajah kemerdekaan wanita dalam pergaulan. Berbagai gerakan dan organisasi gender dibuat dengan dalih untuk membebaskan wanita dari tawanan agama yang membelenggunya

Tak dipungkiri, bersamaan dengan kemajuan zaman dan teknologi pergaulan wanitapun semakin kompleks. Saat ini boleh jadi seorang wanita berdiam diri dirumah namun ia bergaul melalui jejaring sosial di dunia maya.

Untuk itu hendaknya setiap muslimah senantiasa melazimi adab-adab dalam pergaulan. Adab pergaulan ini sama sekali bukan dalam rangka membatasi ekspresi kebebasan wanita. Akan tetapi sebaliknya yaitu menjaga dan melindungi wanita dari berbagai macam keburukan dan kejahatan di masyarakat. Diantara adab tersebut adalah:

           1.  Tidak bertabaruj dalam pergaulan.

Makna Tabarruj secara ringkas adalah memamerkan dan mempertontonkan aurat serta perhiasan lainnya kepada orang yang tidak halal baginya sehingga orang tersebut tertarik atau tergoda olehnya. Dizaman ini banyak sekali wanita muslimah yang tidak mengindahkan aturan ini. Kita dapati mayoritas kaum muslimah bertabaruj ketika berinteraksi dengan masyarakat. Mulai dari model baju dan celana yang sempit dan pendek sampai make up yang seronok dan berlebihan. Budaya inilah budaya jahiliyyah yang dilarang Alloh dalam firmannya.

 وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33) 

Termasuk bagian dari tabaruj adalah memakai wangi-wangian dimuka umum sehingga membuat orang yang dilewatinya mencium baunya dan berhasrat padanya.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: “wanita mana saja yang memakai wewangian, kemudian dia melewati kaum (laki-laki) agar mereka mencium baunya maka dia pezina(HR. An Nasa’i, Abu Dawud, At Tirmidzi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)

Orang yang bertabaruj terutama dengan pakaian tapi pada hakikatnya telanjang karena menampakkan aurot mendapatkan ancaman dari Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dalam sabdanya: “Dua golongan ahli neraka yang belum aku lihat: Orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi, mereka mencambuki manusia dengannya; dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan menggoyangkan kepalanya seperti bergoyangnya punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya itu bisa dicium dari jarak sekian dan sekian(HR. Muslim)

Termasuk dalam kategori tabaruj adalah memakai hijab akan tetapi tipis dan penuh dengan hiasan, tulisan funky dan gaul serta motif bordiran yang membuat orang lain tertarik walaupun derajatnya tidak seperti orang yang membuka aurot.

         2.  Menjaga Pandangan dan kemaluan.

Dalam pergaulan wajib bagi wanita menjaga pandangannya dari hal-hal yang diharamkan seperti aurat laki-laki dan memandang laki-laki dengan syahwat. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman;

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30)  وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ (31)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’   Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya. (QS. An-Nuur [26]: 30-31)

Namun Jika   secara tidak sengaja melihat sesuatu yang haram, hendaknya segera memalingkan pandangannya. Hal Sebagaimana yang dirangkan dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya dia telah berkata: “Fadhl pernah dibonceng oleh Rosululloh. Kemudian ada seorang wanita Khots’am yang lewat, lantas Fadhl melihat wanita itu, dan wanita itu pun melihat Fadhl. Melihat kejadian tersbut, dengan segera Nabi memalingkan wajah Fadhl ke arah yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjaga pandangan merupakan sarana terbesar dalam menjaga kemaluan sebagaimana penjelasan Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam kitab beliau Al-Jawabul Kafi: “Pandangan adalah asal seluruh bencana yang menimpa manusia. Bermula dari pandangan akan lahirlah keinginan, dan keinginan akan melahirkan pemikiran. Dari pemikiran akan lahirlah syahwat (hawa nafsu) yang pada akhirnya syahwat itu akan mendorong menjadi keinginan yang sangat kuat hingga terjadi apa yang ia inginkan.”

Sayangnya hari ini banyak sekali wanita yang tidak mengamalkan nasihat ini kecuali yang dirahmati Alloh.

         3.  Berbicara terhadap lawan Jenis dengan Tegas.

Dalam bergaul di masyarakat dianjurkan bagi seorang wanita muslimah berbicara dengan tegas dan tidak mendayu-dayu sehingga membuat lawan bicaranya terfitnah dengan suaranya. Baik berbicara langsung maupun lewat telefon. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik.” (QS. al-Ahzab [33]: 32)

Suara wanita yang mendayu-dayu dan merayu lewat pembicaraan ataupun nyanyian jelas diharamkan.

Dalam hal ini Syakh Al-Fauzan pernah ditanya tentang hukum wanita yang melembutkan suara maka beliau menjawab dengan dua jawaban.

PertamaSeorang wanita tidak boleh berbicara dengan lelaki yang bukan mahramnya (ajnabi) kecuali bila dibutuhkan dan dengan suara yang tidak membangkitkan syahwat lelaki. Juga si wanita tidak boleh memperluas pembicaraan dengan lelaki ajnabi melebihi kebutuhan.

Kedua: Melembutkan suara yang dilarang dalam Al-Qur’an adalah melunakkan suara dan membaguskannya sehingga dapat membangkitkan fitnah. Oleh karena itu, seorang wanita tidak boleh mengajak bicara lelaki ajnabi dengan suara yang lembut. Ia tidak boleh pula berbicara dengan lelaki ajnabi sebagaimana berbicara dengan suaminya, karena hal tersebut dapat menggoda, menggerakkan syahwat, dan terkadang menyeret kepada perbuatan keji. Sementara itu, telah dimaklumi bahwa syariat yang penuh hikmah ini datang untuk menutup segala jalan/perantara yang  mengantarkan kepada hal yang dilarang. Adapun perubahan suara si wanita karena malu tidaklah termasuk melembutkan suara. Wallahu a’lam.”(Jaridah al-Muslimun no. 68, sebagaimana dinukil dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hal. 689—690)

         4.  Menghindari berkholwat/bersepi-sepian.

Berkholwat adalah berduan dan bersepi-sepi dengan laki-laki asing yang bukan mahromnya. Mahrom adalah seseorang yang haram dinikahi karena sebab tertentu baik selamanya maupun sementara seperti  nasab atau sebab lainnya. Nabi sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad dari hadits Jabir 3/339. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Gholil jilid 6 no. 1813)

Sedangkan ikhtilat adalah campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa ada pembatas. Sungguh betapa kholwat dan ikhtilath ini telah menjadi biasa di masyarakat kita. Di bus, angkot, kereta, sekolah, tempat kerja penuh dengan kholwat dan ikhtilat. Bahkan di dalam masjid sekalipun banyak orang-orang yang berkholwat dan ikhtilath. Allohu musta’an.

         5.  Menghindari berjabat tangan atau berpelukan dan berciuman kepada orang yang tidak halal dengannya.

Salah satu kesalahan dalam pergaulan wanita yang harus di koreksi adalah sembarangan berjabat tangan dengan lawan jenis. Hal ini sangat marak terutama menjelang momen Idul Fitri atau di acara perkumpulan lainnya. Rasanya hambar kalau tidak berjabat tangan. Bahkan kebanyakan orang menganggap orang yang tidak mau berjabat tangan dengan orang yang bukan mahromnya dianggap “sok suci”. Padahal inilah ajaran islam yang di bawa nabi sholallohu alaihi wasallam. Memang terdapat hadits “Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin yang lain, lalu ia mengucapkan salam dan mengambil tangannya untuk menjabatnya, maka akan berguguran kesalahan-kesalahan keduanya sebagaimana bergugurannya daun-daun pepohonan.” (HR. Al-Mundziri dalam At-Targhib 3/270, Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 8/36, lihat Ash-Shahihah no. 526)

Namun hadits tersebut tidak bisa kita plintir sesuai kemauan kita. Hadit tersebut merupakan keutamaan berjabat tangan dengan sesama jenis. Kalau tidak tentu akan bertentangan dengan hadits ini.

“Kepala salah seorang ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 20/210 dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, lihat Ash-Shahihah no. 226(

Ketika menjelaskan hadist tentang tata cara Rosululloh sholallohu alaihi wasallam membaiat wanita Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rohimahulloh berkata, “Rosululloh sholallohu alaihi wasallam membaiat mereka hanya dengan mengucapkan “Sungguh aku telah membaiatmu”, tanpa beliau menjabat tangan wanita tersebut sebagaimana kebiasaan yang berlangsung pada pembaiatan kaum lelaki dengan menjabat tangan mereka.” (Fathul Bari, 8/811(

Jika kepala seorang ditusuk dengan besi lebih baik dari pada dosa jabat tangan dengan orang yang tak halal dengannya. Lantas bagaimana orang yang berpelukan dan berciuman? Tentu orang yang beriman lebih tahu jawabannya.

         6.  Berinteraksi seperlunya

Hari ini banyak sekali di dunia maya seperti FB, Twiter, YM, dan jejaring lainnya penuh dengan status wanita sekaligus nomer telpon dan foto-foto pribadinya. Yang lebih miris banyak wanita yang sengaja menyebar foto tabarruj atau komentar genit yang bernada merayu tanpa raya malu.

Sebagai seorang muslimah hendaknya menjaga harga diri ketika harus mengunakan internet untuk satu keperluan. Begitu juga tidak berlebihan sehingga bagaikan suami istri ngobrol di dunia maya. Sungguh pergaulan dunia maya ini sekarang banyak menjebak wanita bahkan dari kalangan aktivis sehingga sering di dapati ungkapan-ungkapan lebay dari mereka kepada orang yang tidak halal untuknya. Yang jelas harus benar-benar hati-hati dalam pergaulan di dunia maya. Jangan berlebihan. Berinteraksilah seperlunya saja untuk keperluan yang benar-benar urgen. Hati-hati setan sangat gampang menjerumuskan kita dalam pergaulan di dunia maya. Sipapun dan sekuat apapun iman kita. Marilah kita berhias dengan rasa malu!

         7.  Menjauhi tempat-tempat maksiat.

Dalam pergaulan secara umum hendaknya muslimah menghindari tempat-tempat atau acara maksiat karena disitulah setan bermain merekrut mangsanya. Seperti pertunjukkan dangdut, band dan acara sihir/sulap, klub malam, diskotik, bioskop, serta tempat-tempat yang banyak maksiat lainnya. Mendatangi tempat-tempat tersebut sangat rawan melemahkan keimanan seseorang kecuali untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab kebanyakan yang datang ketempat-tempat tersebut adalah orang-orang yang fajir (suka berbuat maksiat).

Jangan Sampai Kita Menyesal di Akhirat Nanti

 Saudariku Para muslimah yang dirahmati Alloh… Renungkanlah firman Alloh berikut :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27)  يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28)  لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)

“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (QS. Al-Furqon [25]: 27-29)

Jangan sampai kelak kita menyesal di hari di mana rasa sesal tidak lagi berguna dan bermanfaat karena salah pergaulan. Insya Alloh jika ketika seorang muslimah memahami dan melaksanakan adab-adab tersebut akan beruntung di dunia dan akhirat ketika menjalin pergaulan.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05