Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan membahas tentang adab menerima tamu. Di antara adab-adab bagi tuan rumah dalam menerima tamu adalah,

Pertama; Niat yang benar.

Jika orang yang bertamu harus melandasi niatnya dengan kebaikan, maka begitu pula dengan yang dikunjungi atau tuan rumah. Maka, hendaknya setiap muslim yang menjadi tuan rumah, berniat mengharapkan pahala dalam menyambut kedatangan tamu dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu dengan niat, dan setiap orang mendapatkan balasan tergantung pada apa yang ia niatkan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan sampai sambutan kita terhadap tamu tidak berbuah pahala dikarenakan niat yang tidak baik.

Adab kedua bagi tuan rumah adalah, menerima tamu dengan baik.

Ketika kita menerima tamu maka terimalah dengan baik, kita bisa menerimanya dengan senyum yang tulus, wajah yang ceria, atau mengucapkan kata-kata selamat datang dan sambutan yang baik. Karena sesungguhnya hal tersebut akan melapangkan hati tamu, dan membuat mereka dihormati di sisi saudaranya.

Sebagian orang ada yang tidak peduli, acuh tak acuh, dan tidak mau memberi senyum kepada tamunya. bahkan orang tersebut menunjukkan muka masam di hadapan tamunya, sehingga sang tamu merasa tidak enak, segera ingin kembali, dan yang lebih parah lagi kemungkinan besar sang tamu tidak ingin berkunjung lagi.

Meskipun tamu sudah disuguhkan jamuan yang serba wah, akan tetapi jika sang tuan rumah bermuka masam atau cemberut, maka yang terjadi adalah sang tamu akan merasa tidak nyaman, tapi meskipun hanya disuguhi air putih, jika tamu di sambut dengan wajah yang ramah dan senyuman yang tulus, maka hal tersebut akan lebih membuat sang tamu merasa betah dan enak.

Nabi shalallahu alaihi wasallam mencontohkan hal ini ketika menyambut putri beliau, Fathimah radhiallahu anha, Nabi shalallahu alaihi wasallam mengatakan ”selamat datang wahai putriku”. Bisa kita bayangkan hanya menyambut sang putri saja yang itu adalah di bawah bimbingannya, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyambutnya dengan kata-kata yang indah dan membuat sang putri merasa dihargai. Apalagi ketika menyambut orang lain, apalagi menyambut tamu yang datang dari jauh.

Maka sambutlah tamu kita dengan baik. Walaupun kita menghidangkan suguhan sekedarnya, berusahalah untuk menyambutnya dengan penerimaan yang tulus.

Adab menerima tamu yang ketiga adalah, menempatkan tamu di tempat yang layak.

Menempatkan tamu di tempat yang layak, hal ini bertujuan agar sang tamu merasa nyaman. Usahakan untuk tidak menempatkan tamu di tempat yang akan menyingkap aurat tuan rumah, atau tempat yang mungkin menyebarkan bau tak sedap. Demikian juga hendaknya sang tuan rumah tidak mempersilakan tamunya untuk duduk di tempat yang kotor atau tempat yang tidak layak.

Selanjutnya, Adab keempat, yang harus diperhatikan oleh tuan rumah adalah, menyuguhi atau memberi hidangan dan memuliakan tamu.

Menyuguhi tamu bisa dengan air minum, makanan dan yang sejenisnya. jangan sampai ia terlambat menyuguhkannya atau menunda-nundanya hingga tamu hampir pulang. Allah ta’ala menganjurkan hal ini kepada kita.

Sebagaimana firman Allah ta’ala yang tercantum dalam surat adz-Dzariyat ayat 2427, yang artinya,

”Sudahkah sampai kepadamu Muhammad, cerita tentang tamu Ibrahim yaitu malaikat-malaikat yang dimuliakan?, Ingatlah ketika mereka masuk ke tempat Ibrohim lalu mengucapkan, “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun, kalian adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrohim lalu berkata: “Silahkan Anda makan”.

Di dalam ayat ini disebutkan bahwa Nabi Ibrohim alaihissalaam masuk sembunyi-sembunyi ke dalam rumah tanpa diketahui oleh tamu. ia pergi menyiapkan makanan yang layak, kemudian segera kembali. hidangan ini merupakan hak tamu. sementara memuliakan tamu adalah merupakan kewajiban yang dianjurkan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam, bahkan beliau memasukannya sebagai salah satu bentuk keimanan.

Dalam hadits shohih yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu, bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

”Dan barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.

Adab yang selanjutnya, yaitu tidak berlebihan menjamu tamu.

Walaupun diharuskan bagi kita untuk menjamu tamu, tapi yang perlu kita ingat bahwa Islam pun mengajarkan agar tidak berbuat sesuatu di luar batas kemampuan.

Begitupun ketika kita menyambut tamu jangan sampai melebihi kadar tamu. Akan tetapi muliakanlah tamu dengan sesuatu yang kita mampu, jangan memberatkan diri, jangan pula menghidangkan makanan atau minuman yang terlalu banyak, karena memang Islam tidak membebani seseorang di luar kemampuannya, dan Islam pun tidak menyukai sesuatu yang berlebihan.

Adab yang selanjutnya adalah, menunaikan hak tamu.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, hak tamu untuk mendapatkan jamuan adalah sehari semalam. Adapun hak berkunjung adalah tiga hari tiga malam. Namun menjamu tamu lebih dari tiga hari merupakan bentuk shodaqoh.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini hendaknya setiap mukmin memuliakan tamu-tamunya.

Seorang ulama bernama al-Khoththobi rahimahullah berkata, “Apabila ada tamu yang berkunjung, hendaklah ia menjamunya. Hendaklah ia memberikan jamuan lebih baik dari apa yang ia miliki sehari semalam. Namun pada hari kedua dan terakhir, hendaklah ia menghidangkan apa yang ada. Apabila berlalu tiga hari, berarti ia telah menunaikan haknya. Sementara apa yang terhidang lebih dari itu, maka terhitung sebagai shodaqoh”.

Selanjutnya, adab yang ketujuh adalah, hendaknya tuan rumah yang melayani tamu.

Melayani tamunya sendiri merupakan salah satu adab yang dianjurkan dalam al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam kisah Nabi Ibrohim.

“Maka Ibrohim pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. kemudian Ibrohim berkata, “Silahkan anda makan”.

Dari ayat ini, kita tahu bahwa Nabi Ibrohim alihissalaam yang menyuguhkan makanannya sendiri ke tamu-tamunya, tidak dengan pembantu atau pelayannya.

Adab yang kedelapan adalah, berbuat baik pada tamu selama ia tinggal di rumah.

Berbuat baik pada tamu selama ia tinggal di rumah kita merupakan adab yang sangat dianjurkan, karena dengan seperti itu akan lebih terjalin sebuah tali persaudaraan yang baik.

Adapun cara berbuat baik pada tamu bisa dengan berbagai cara, misalnya, dengan menyediakan tempat tidur yang layak, mencegah keributan anak-anak agar tidak mengganggu sang tamu, memberikan handuk yang bersih untuk sang tamu, dan menyiapkan atau menyediakan segala keperluan yang dibutuhkan oleh sang tamu dalam kesehariannya dan lain-lain.

Selanjutnya, adab yang kesembilan, hendaklah mengantarkan kepulangan tamu sampai pintu.

Jika tamu akan pamit pulang, maka sang tuan rumah dianjurkan untuk mengantarkannya sampai ke pintu depan rumah. Hal ini untuk memuliakan dan menghormati tamunya. Jangan sampai sang tuan rumah hanya mempersilakan kepergian tamunya sambil duduk saja, akan tetapi mengantar kepergian tamunya sampai keluar.

Adab yang kesepuluh, atau adab yang terakhir adalah, hendaknya tuan rumah tidak masuk ke rumah dan mengunci pintu, kecuali setelah tamu benar-benar pergi.

Tuan rumah tidak diperkenankan untuk masuk kembali ke dalam rumah dan menutup atau mengunci pintu, kecuali setelah tamunya pergi dan menaiki kendaraan atau kendaraannya telah berjalan. Adab ini termasuk bentuk memuliakan tamu dan menghormati tamu serta berlaku sopan terhadap tamu.

Demikianlah adab dalam menerima tamu yang telah kita pelajari, semoga setelah kita mengetahui adab-adab bertamu, baik bagi tamu atau bagi tuan rumah, kita menjadi tamu atau menjadi tuan rumah yang tidak hanya menunaikan keperluannya semata, tapi bernilai ibadah di sisi Allah. Wallahu a’lam.