Oleh: Syaeful Rohim, M.A.Pd

Manusia merupakan makhluk sosial. Mereka sangat membutuhkan interaksi antara sesama. Mereka tinggal dalam satu lingkungan dan daerah tertentu membentuk suatu masyarakat. Sedangkan Islam datang dengan membawa beberapa petunjuk sempurna untuk umat manusia, agar kehidupan mereka berjalan dengan baik dan adil sentosa. Islam menggambarkan kepada umat manusia tentang arti penting tetangga, sehingga memerintahkan untuk selalu memuliakan tetangga. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhori)

Pada kesempatan ini, kita akan membahas adab-adab Islami mengenai aturan bertetangga. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Berbuat baik kepada tetangga.

Adab pertama yang hendaknya kita berikan kepada tetangga kita adalah menanam benih-benih kebaikan, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Hal ini diperintahkan langsung oleh Alloh subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam dan umatnya, sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala:

 وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ 

“Sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa [4]: 36)

Dalam ayat ini, kita dapati bahwa salah satu orang yang berhak mendapatkan kebaikan dari kita adalah tetangga, baik tetangga kita yang dekat atau jauh, muslim atau kafir, kawan atau musuh, kerabat atau orang lain, orang sholih atau  fasik, semuanya harus mendapatkan kebaikan dari kita. Hal itu merupakan bagian dari ibadah kita di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala.

Tidak menutup kemungkinan, kebaikan kita kepada tetangga akan memberikan manfaat besar kepadanya. Seperti tetangga kafir menjadi muslim karena itu, atau fasik menjadi sholih, atau musuh menjadi kawan, jahat menjadi baik. Semuanya atas izin Alloh. Tetapi hal yang pasti, orang yang melakukan hal itu adalah sebaik-baik tetangga di sisi Alloh, sebagaimana sabda Rosululloh sholallohu alaihi wasallam:

“Sahabat yang paling baik di sisi Alloh adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At-Tirmidzi)

  1. Menjaga hak-haknya.

Adab selanjutnya dalam bertetangga adalah menjaga hak tetangga. Sebelum menuntut hak kita kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, maka kita harus memenuhi hak tetangga, seperti yang dijelaskan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Di antara hak tetangga adalah sabda Rosululloh sholallohu alaihi wasallam:

“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan”. (HR. Baihaqi)

“Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik”. (HR. Muslim)

Kalaupun tetangga kita tidak memenuhi hak sebagai tetangga, kita tetap dituntut memberi hak tetangga, karena hal itu merupakan kewajiban dari Alloh subhanahu wa ta’ala.

  1. Tidak mendzoliminya.

Setiap orang yang beriman dilarang berbuat dzolim kepada orang lain. Larangan berbuat dzolim kepada tetangganya dikaitkan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dengan iman kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dan Hari Akhir, tentu hal ini menunjukkan betapa besarnya masalah itu.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya” (HR. Bukhori)

Di hadits yang lain,

“Demi Alloh, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rosululloh?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhori, Muslim)

Selain itu, orang yang mendzolimi tetangganya diancam oleh Alloh tidak masuk surga, sebagaimana dalam hadits,

Tidak akan masuk Jannah orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Muslim)

Semoga adab-adab ini bermanfaat di akhirat dan menjauhkan kita dari panasnya api neraka, sebagaimana dalam hadits di atas. Wallohu ta’ala a’lam…..

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05