Islam merupakan agama yang penuh dengan ajaran-ajaran yang luhur dan mulia. Di antaranya adalah, mengajarkan manusia untuk memperhatikan adab dalam bertamu dan meminta izin.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian masuk ke dalam rumah selain rumah kalian, hingga kalian meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat”. (QS. an-Nur: 27)

Ayat ini menjelaskan kepada kita tentang etika bertamu dan larangan memasuki rumah orang lain kecuali dengan seizin pemiliknya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya meminta izin itu disyariatkan untuk menjaga pandangan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara adab-adab bertamu atau meminta izin adalah,

  1. Disunnahkan untuk mengawalinya dengan salam.

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari seorang sahabat bernama Rib’i radhiallahu anhu dia berkata, “Seorang dari bani ‘Amir bercerita kepada kami, sesungguhnya dia meminta izin kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam, sementara Nabi sedang berada di rumahnya, maka orang dari Bani ‘Amir berkata, “Apakah saya boleh masuk?”, Maka Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata kepada pembantunya, “Keluarlah dan ajarkan kepadanya adab meminta izin, maka pembantu tersebut berkata: “Katakanlah, Assalaamu ’alaikum, bolehkah saya masuk?”.

  1. Hendaklah orang yang meminta izin masuk rumah, berdiri di sebelah kanan atau sebelah kiri pintu.

Hal ini dimaksudkan, agar yang meminta izin tidak melihat pemandangan yang tidak halal baginya pada rumah orang tersebut. Karena, sesungguhnya meminta izin itu disyariatkan untuk menjaga pandangan.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud, dari Abdulloh bin Busr radu, ia berkata, “Apabila Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mendatangi kediaman suatu kaum, beliau tidak menghadap ke arah pintu rumah dengan wajahnya, akan tetapi beliau memalingkan wajahnya ke arah kanan atau kiri, dan berkata: “Assalamu’alaikum, assalaamu ’alaikum”. Hal tersebut dikarenakan rumah di saat itu, belum memiliki penghalang seperti pintu”.

  1. Haram hukumnya bagi seseorang memandang ke dalam rumah orang lain tanpa izin.

Hal ini adalah sebagaimana yang  diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang dengan sengaja menengok atau memandang ke dalam rumah orang lain tanpa seizin pemiliknya, maka halal bagi mereka untuk mencungkil matanya”.

  1. Jumlah dalam meminta izin untuk masuk maksimal tiga kali.

Apabila seseorang meminta izin masuk lalu diizinkan, maka dia boleh masuk. Akan tetapi, jika tidak diizinkan, hendaknya orang tersebut pulang.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al-Asy’ari, berkata Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, “Jika salah seorang dari kalian minta izin sampai tiga kali, dan tidak dijawab, maka hendaklah kalian pulang”.

Bagaimana halnya jika kita meminta izin sudah tiga kali dan belum ada jawaban, akan tetapi kita menyangka mungkin pemilik rumah belum mendengarnya, maka apa yang harus kita lakukan ketika itu?.

Jawabannya, para ulama mengatakan, sebaiknya beramal dengan teks hadits yang tadi. Dan ada yang mengatakan, hendaklah mengeraskan suaranya, sampai suara orang yang meminta izin itu benar-benar terdengar.

Sedangkan Imam Malik rahimahullah berkata, “Meminta izin itu batasnya tiga kali, tidak disunnahkan bagi seseorang untuk menambahnya walaupun cuma sekali, kecuali bagi orang yang benar-benar yakin kalau yang dimintai izin itu belum mendengar suaranya, maka aku berpendapat boleh untuk menambahnya”.

  1. Ketika ditanya nama oleh pemilik rumah, jangan hanya mengatakan “saya”.

Hukum perbuatan ini makruh atau dibenci. Hal ini sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Jabir radhiallahu anhu yang berkata, “Saya mendatangi Rasulullah untuk membayar hutang ayahku, kemudian aku mengetuk pintu rumah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Beliau bertanya, “Siapa itu?” Aku menjawab, “Saya”, maka Beliau bersabda: “Saya, saya”. sepertinya beliau tidak menyukai jawaban tersebut”.

Maka hal yang baik adalah, ketika Anda bertamu, lalu ditanya oleh pemilik rumah untuk menyebutkan nama, jawablah dengan nama Anda yang jelas. Hal itu, agar diketahui oleh pemilik rumah.

Ada catatan penting yang harus diketahui, ketika nama orang yang meminta izin tidak dikenal, karena adanya kesamaan nama dengan orang lain, dan sulit untuk membedakan jika sekedar mendengar suaranya saja, maka dianjurkan bagi orang yang meminta izin untuk lebih memperjelas identitasnya.

Hal ini seperti dalam hadits riwayat Bukhari, “Ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam berjalan menuju ke rumahnya, Zainab istri Ibnu Mas’ud datang meminta izin kepada beliau. Lalu Zainab mengatakan, “Wahai Rasulullah, ini Zainab”. Maka Rasulullah berkata, “Zainab yang mana?”, Zainab pun menjawab, ”Zainab istri Ibnu Mas’ud”. Rasulullah berkata: ”Ya, persilahkan dia masuk!”.

Dalam hadits ini dapat kita ambil pelajaran bahwa kita harus memperjelas identitas ketika hendak meminta izin masuk rumah untuk bertamu.

  1. Sebaiknya bagi orang yang meminta izin bertamu tidak mengetuk pintu terlalu keras.

Mengetuk pintu terlalu keras termasuk adab yang buruk. Karena hal ini bisa mengganggu pemilik rumah.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Pintu kediaman Nabi shalallahu alaihi wasallam diketuk dengan menggunakan kuku”.

Adab ini dilakukan oleh para sahabat sebagai gambaran adab yang tinggi. Ini adalah adab terpuji bagi seseorang yang berada di dekat pintu. Adapun yang jauh dari pintu, sehingga suara ketukan pintu dengan kuku tidak terdengar, maka sebaiknya mengetuk pintu lebih keras lagi sesuai dengan kebutuhan.

  1. Jika pemilik rumah menyuruh untuk kembali, maka orang yang meminta izin harus kembali.

Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat An-Nur ayat ke-28,

“Dan apabila dikatakan kepada kalian, kembalilah, Maka kalian kembalilah. Yang demikian itu lebih menyucikan bagi kalian.

  1. Tidak diperbolehkan untuk memasuki rumah orang lain yang tidak ada seorang pun di dalamnya.

Dikarenakan hal itu merupakan sikap sewenang-wenang terhadap hak orang lain. Perbuatan tersebut adalah perbuatan mengganggu milik orang lain tanpa izinnya.

  1. Apabila Anda diundang atau diutus kepada seseorang, maka Anda tidak perlu minta izin untuk masuk.

Hal itu dikarenakan undangan dan diutusnya seseorang untuk menjemputnya sudah terkandung padanya permintaan izin.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Apabila seseorang mengundang kalian untuk makan, kemudian dia mengutus seseorang sebagai utusannya, maka itu merupakan izin baginya”.

Namun, para ulama mengecualikan dalam masalah ini, jika seseorang terlambat menghadiri undangan pada waktunya, atau pada waktu itu berada pada kondisi wajib untuk  meminta izin, maka kita mesti meminta izin.

  1. Meminta izin ketika ingin berdiri dan meninggalkan majlis atau tempat pertemuan.

Karena hal tersebut merupakan adab yang mulia. Pengunjung diarahkan untuk memiliki adab ketika hendak meninggalkan majlis. Maka, sebagaimana Anda meminta izin ketika hendak masuk, begitu pula hendaknya meminta izin ketika Anda hendak meninggalkan majlis.

Kemungkinan alasan diharuskannya hal tersebut, karena ditakutkannya mata akan melihat hal-hal yang tidak halal untuk dilihat, atau minimal hal-hal yang tidak disukai.

  1. Meminta izin ketika hendak menemui ibu atau saudara perempuan di ruangannya.

Mengapa harus meminta izin? Agar mata kita tidak melihat hal-hal yang dilarang, misalnya aurat, atau hal-hal lainnya yang tidak disenangi kaum wanita jika diketahui oleh selain mereka.

Muslim bin Nadzir mengatakan, “Seorang laki-laki bertanya kepada Hudzaifah, ‘Apakah aku harus meminta izin kepada ibuku?’, Hudzaifah menjawab, ”Jika engkau tidak meminta izin kepada ibumu, engkau akan melihat hal-hal yang engkau benci”. (HR. Bukhari)

  1. Disunnahkan memberikan kabar kepada istri ketika akan masuk rumah.

Hal ini dimaksudkan agar suami tidak melihat istrinya dalam keadaan yang dapat membuatnya marah, atau istri sedang melakukan sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh suaminya.

Zainab istri Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Jika Abdulloh datang dari menyelesaikan suatu keperluan, maka dia berdehem karena khawatir kami dalam keadaan yang tidak ia sukai”.

  1. Para pembantu dari kalangan budak dan anak-anak yang belum baligh, diharuskan bagi mereka untuk meminta izin kepada ibu dan saudara-saudara perempuan dalam tiga keadaan, yaitu sebelum sholat fajar, ketika waktu tidur siang sebelum zuhur, dan setelah shalat isya.

Selain dari ketiga waktu tersebut, maka tidak ada keharusan bagi mereka untuk meminta izin terlebih dahulu.

Demikianlah pembahasan tentang adab-adab dalam bertamu dan meminta izin yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Dengan mengetahui serta mengamalkan adab-adab tersebut, kita akan meraih pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam.,