Oleh: Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Dalam berdoa dan berdzikir, kita semua harus memperhatikan adab-adabnya, berikut ini beberapa adab berdoa dan berdzikir:

Pertama, sebelum berdoa, hendaknya ia bertaubat dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala, serta tunduk patuh terhadap syariah. Perhatikanlah doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim alaihissalaam. Sebelum meminta sesuatu kepada Allah, beliau memuji-Nya terlebih dahulu. Di dalam surat asy-Syu’aro ayat 78-82 beliau memuji Allah dengan lima pujian. Kemudian di dalam ayat 83-87 beliau baru meminta kepada Allah azza wa jalla dengan lima permintaan:

“Dialah Tuhan yang telah menciptakanku, menunjukiku, memberi makan dan minum kepadaku. Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku. Allah yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali). Dia yang amat kuharapkan ampunan-Nya atas kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. asy-Syu’aro: 78-82)

Ayat-ayat di atas adalah lima pujian Nabi Ibrahim alaihissalaam untuk Allah subhanahu wa ta’ala, sebelum beliau meminta lima permintaan berikut:

“Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang sholih. Jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendapatkan surga yang penuh kenikmatan. Ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan’.” (QS. asy-Syu’aro: 83-87) 

Kedua, orang yang berdoa atau berdzikir harus mengikhlaskan doa dan dzikirnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan merasa harap serta takut kepada Allah serta merendahkan diri di hadapan Allah. Allah ta’ala berfirman:

“Ingatlah kisah Zakaria, tatkala ia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri dan Engkaulah pewaris yang paling baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami’.” (QS. al-Anbiya: 89-90)

Ketiga, hendaknya ia berharap besar terkabulnya doa dan tidak boleh tergesa-gesa serta putus asa, walaupun doanya belum terwujud. Karena segala sesuatu memiliki waktu pengabulan yang tepat. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

“Doa kalian pasti dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, dia berkata ‘aku telah berdoa, tetapi tidak dikabulkan’.” (HR. Bukhari)

Keempat, merendah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena yang memiliki keagungan hanyalah Allah. Perhatikanlah doa Nabi Yusuf, dalam firman Allah berikut ini:     

“Yusuf berkata, ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Jika Engkau tidak hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 33-34)

Doa Nabi Yusuf dikabulkan oleh Allah setelah dirinya merendah kepada-Nya, dan mengakui bahwa yang bisa menolong hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala.

Kelima, hendaknya orang yang berdoa dan berdzikir berposisi sempurna. Jika dia duduk, hendaknya menghadap kiblat, merendah kepada Allah lalu berdoa atau berdzikir dengan tenang dengan menundukkan kepalanya. Walaupun diperbolehkan berdzikir dengan posisi tidak duduk.  Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadan berbaring. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, Engkau tidaklah menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali Imron: 190-191)

Keenam, mengiba kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika berdoa dan mengulangnya. Hal ini sebagaimana kebiasaan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang selalu mengulang-ulang doa. Di antara doa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah:

“Ya Allah binasakanlah kafir Quraisy (3 kali), Ya Allah binasakanlah Amar bin Hisyam, Utbah bin Robi’ah, Syaibah bin Robi’ah, al-Walid bin Utbah, Umayyah bin Kholaf, Uqbah bin Abi Mu’ait, Umaroh bin Walid. Abdulloh bin Mas’ud berkata, ‘Demi Allah, aku melihat mereka semua telah tersungkur di perang Badar’.” (HR. Bukhari)

Ketujuh, mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat. Walaupun pada saat tertentu hal ini tidak disunahkan seperti ketika khutbah jumat atau ketika sujud. Hal ini sebagaimana hadis berikut:

“Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu dan Maha Menderma. Dia Malu ketika seorang hamba mengangkat kedua tangannya dalam berdoa, kemudian kembali dalam keadaan kosong.” (HR. Tirmidzi)

Demikianlah beberapa adab dalam berdoa dan berdzikir kepada Allah. Semoga kita semua bisa mengamalkannya. Amin. Wallahu ta’ala a’lam…