Islam dalam masa keemasannya, kaya akan figur-figur teladan. Dengan membuka lembaran kehidupan mereka, pengaruhnya dapat membekas kuat dalam jiwa. Figur yang tidak diragukan lagi untuk dijadikan panutan bagi kita adalah Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, kemudian para sahabat. Karena mereka memiliki kejujuran iman, ketabahan, kesungguhan dalam beribadah serta ketangkasan dan keberanian di medan laga. Sosok di antara para sahabat yang menarik untuk kita ketahui kehidupan dan sepak terjangnya dalam memperjuangkan Islam adalah Abu Ubaidah bin al-Jarroh rodhiallohu anhu.

Nama aslinya adalah Amir bin Abdullah bin al-Jarroh, ia dijuluki Abu Ubaidah. Lahir di Makkah, di sebuah rumah keluarga suku Quroisy yang terhormat. Ia adalah seorang yang berperawakan tinggi lagi berwibawa. Abu Ubaidah rodhiallohu anhu dikenal sebagai sosok yang senantiasa berlaku lemah lembut dalam pergaulan, bersikap rendah hati serta memiliki rasa malu yang tinggi. Jika sedang menghadapi keadaan genting dan membutuhkan perhatian sungguh-sungguh, akan tampaklah kebijaksanaan dan kecerdasannya. Dalam setiap peperangan, ia laksana mata pedang yang berkilat-kilat karena ketajamannya, sehingga menggetarkan musuh yang menghadangnya.

Abu Ubaidah adalah orang terpercaya dari umat Muhammad sholallohu alaihi wasallam. Kata al-Amin (orang terpercaya) disematkan di belakang namanya, lantaran Rosululloh sholallohu alaihi wasallam pernah bersabda, “Setiap umat mempunyai orang terpercaya, dan orang terpercaya pada umat ini adalah Abu Ubaidah.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3:184)

Ketika Islam mulai menampakkan cahayanya di Makkah menyinari jiwa-jiwa yang hanif, orang-orang kafir Quroisy amat membenci hal tersebut dan berusaha memadamkan cahaya Islam. Tetapi Alloh subhanahu wa ta’ala lebih berkuasa atas segala sesuatu, sehingga Dia menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya. Mereka melakukan siksaan jasmani dan rohani pada kaum Muslimin agar mau kembali kepada agama nenek moyangnya. Abu Ubaidah merupakan salah satu di antara mereka yang mengalami siksaan yang tak pernah dialami oleh penganut agama manapun di muka bumi ini. Namun, ketabahan hatinya yang begitu menakjubkan menjadi penawar yang amat mujarab bagi setiap luka dalam perjuangan mempertahankan keyakinannya.

Semakin banyak orang memeluk Islam, kaum kafir Quroisy semakin geram dan meningkatkan frekuensi penindasan serta penyiksaannya. Dalam kondisi seperti itu, Alloh memerintahkan kaum Muslimin untuk berhijrah. Kemudian Rosululloh sholallohu alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk berhijrah ke Habasyah, karena beliau mengetahui bahwa Ashhamah an-Najasyi, raja Habasyah adalah seorang yang adil. Abu Ubaidah termasuk rombongan yang berhijrah ke Habasyah. Sekembalinya dari Habasyah, ia langsung bergabung kembali dengan Rosululloh sholallohu alaihi wasallam di Madinah menyokong perjuangan Islam.

Keberadaannya di Madinah yang aman dan tenteram tidak berarti ia telah terlepas dari cobaan. Karena pada hakikatnya di penjuru bumi mana pun, kehidupan ini memang ladang cobaan bagi manusia. Terlebih bagi kaum Mukminin, mereka akan diuji oleh Alloh dalam keimanannya.

Di antara cobaan terberat yang menimpa Abu Ubaidah terjadi pada perang Badar. Ia menggempur pertahanan musuh dengan gagah berani tanpa takut akan kematian. Keberaniannya dan ketangkasannya menciutkan nyali kaum musyrikin Makkah. Bahkan pasukan berkuda kafir Quroisy selalu menghindar berduel dengannya.

Hanya ada satu musuh yang terus menghadang gerak laju Abu Ubaidah. Sebaliknya, Ia selalu menghindari orang ini. Ia tidak mau berduel dengan orang ini apalagi membunuhnya. Tetapi, karena orang ini terus merangsek mengejarnya, Abu Ubaidah rodhiallohu anhu telah terdesak dan tak bisa lagi menghindar, akhirnya ia pun mengayunkan pedangnya kuat-kuat menebas kepala orang tersebut hingga tersungkur tewas di hadapannya.

Tahukah Anda siapa orang yang telah dibunuh Abu Ubaidah? Orang tersebut adalah Abdullah bin Jarroh, ayahnya sendiri!

Sungguh, sekali-kali Abu Ubaidah tidaklah membunuh ayahnya, melainkan membunuh kemusyrikan yang ada pada diri ayahnya. Alloh subhanahu wa ta’ala pun mengabadikan peristiwa dahsyat ini dalam al-Qur’an.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ …

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya ….” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)

Demikianlah, kekuatan imannya, keikhlasan batinnya, serta amanahnya terhadap umat telah mencapai puncaknya. Tak heran jika Abu Ubaidah rodhiallohu anhu dipilih untuk menjadi pemimpin pasukan Muslimin dalam misinya menaklukkan wilayah Syam.

Abu Ubaidah rodhiallohu anhu selalu turut serta dalam seluruh peperangan bersama Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, sebab ia adalah orang kepercayaan Nabi sholallohu alaihi wasallam. Pada perang Uhud, ia menjadi satu dari sepuluh orang yang membentengi Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dari anak panah musuh. Pada perang ini Rosululloh sholallohu alaihi wasallam terluka pada pipinya karena tertusuk dua pecahan rantai besi penutup muka beliau.

Abu Ubaidah berlomba-lomba dengan sahabat lain untuk mencabut besi tersebut. Akhirnya Abu Ubaidah-lah yang mendapat kesempatan mencabut besi itu dari pipi Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Khawatir Nabi sholallohu alaihi wasallam akan terluka, ia tidak mencabut besi itu dengan tangannya, melainkan dengan giginya, sehingga gigi serinya tanggal bagian atas dan bawah.

Setelah perang Uhud, Abu Ubaidah senantiasa menyertai Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dalam peperangan hingga wafatnya beliau. Kontribusinya yang besar terhadap perjuangan menegakkan kalimat Alloh sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, setelah Rosululloh sholallohu alaihi wasallam wafat, perannya dalam penyebaran dan perluasan wilayah Islam semakin besar.

Pada masa kekhilafahan Abu Bakar, Abu Ubaidah dinobatkan sebagai panglima pasukan muslimin di wilayah Himsh, Syria bagian barat. Ia memperoleh kemenangan demi kemenangan dengan izin Alloh dalam menaklukkan kota-kota di wilayah tersebut.

Bahkan, pada masa kekhilafahan ‘Umar bin Khoththob, Abu Ubaidah rodhiallohu anhu diangkat sebagai panglima tertinggi pasukan gabungan kaum Muslimin, menggantikan panglima sebelumnya yaitu Kholid bin Walid.

Amanah tersebut ia emban dengan penuh tanggung jawab. Abu Ubaidah rodhiallohu anhu mulai menaklukkan kota-kota penting Syam, mulai dari Damaskus ibu kota Syam, kemudian Fihl, provinsi Himsh, kota Hama, kota Ladhiqiyah (Latakia, barat laut Himsh), sampai dapat menaklukkan seluruh bumi Syam, yaitu Syria, Lebanon, Palestina dan Yordania. Abu Ubaidah rodhiallohu anhu sangat yakin bahwa kesuksesannya dalam menaklukkan bumi Syam semata-mata karena pertolongan Alloh subhanahu wa ta’ala kepada agama-Nya.

Hingga suatu ketika, sampailah Abu Ubaidah di suatu kota bernama Amwas (Yordan). Konon daerah tersebut sedang dilanda wabah tho’un (kolera) yang telah banyak menelan korban nyawa tanpa belas kasih. Ketika mengetahui mengetahui bahwa Abu Ubaidah dilanda sakit serius, ‘Umar bin Khathab rodhiallohu anhu berupaya untuk mengeluarkan Abu Ubaidah dengan mengirimkan surat agar ia keluar dari daerah tersebut. Namun, dengan halus Abu Ubaidah rodhiallohu anhu menolak permintaan Umar bin Khoththob.

Serangan penyakit menular itu kian mengganas, sampai memakan korban ribuan pasukan muslimin. Di antara korban dari penyakit ini adalah panglima utama kaum Muslimin, Abu Ubaidah bin al-Jarroh, pada tahun 18 H (639 M), pada usia 58 tahun di masa kekhilafahan Umar bin Khoththob.

Tentu saja musibah ini membuat Khalifah Umar dan seluruh pasukan muslimin sangat berduka. Mereka kehilangan sosok yang dikenal sangat jujur, tulus, jauh dari kedengkian, dan kejahatan hati yang telah mengabdikan diri untuk kepentingan umat.

Semoga Alloh meridhai Abu Ubaidah, orang kepercayaan umat Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam.

 

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05