Nama aslinya adalah Abdurrohman bin Shokhr Ad-Dausy rodhiallohu anhu. Itu adalah nama yang diberikan Nabi sholallohu alaihi wasallam setelah masuk Islam. Ketika di masa Jahiliyah, orang-orang memanggilnya Abdu Syam, yang artinya budak matahari. Namun, nama yang lebih dikenal adalah Abu Huroiroh. Abu Huroiroh rodhiallohu anhu adalah nama panggilannya sewaktu kecil. Ia mempunyai seekor kucing betina yang sering diajaknya bermain dan dimasukkannya ke dalam lengan bajunya yang lebar. Oleh karena itulah teman-temannya menjulukinya Abu Huroiroh (Ayah Kucing Betina). Setelah Rosululloh sholallohu alaihi wasallam mengetahui asal-usul panggilan itu, beliau sering memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab. Dan sebenarnya, Abu Huroiroh rodhiallohu anhu sendiri lebih suka dipanggil Abu Hirr daripada Abu Huroiroh. Karena, Hirr itu artinya kucing jantan, sedangkan Huroiroh kucing betina. Menurut Abu Huroiroh, kucing jantan lebih baik dari kucing betina. Akan tetapi sampai sekarang ia lebih dikenal dengan Abu Huroiroh.

Islam masuk ke negeri kaum Dausy kira-kira tahun ke 7 Hijriyah. Ketika itulah Abu Huroiroh masuk Islam. Ia mengenal Islam melalui Thufail bin Amr Ad-Dausy, pemimpin daulah Dausy. Ketika itu Abu Huroiroh rodhiallohu anhu menjadi utusan kaumnya menemui Rosululloh sholallohu alaihi wasallam di Madinah. Setelah bertemu Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, Abu Huroiroh memutuskan untuk berkhidmat kepada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dan menemani beliau. Sejak saat itu, Abu Huroiroh rodhiallohu anhu tinggal di masjid tempat Rosululloh sholallohu alaihi wasallam mengajar dan mengimami sholat, selama Rosululloh sholallohu alaihi wasallam hidup. Kemudian, setelah itu ia menyibukkan dirinya dengan ilmu hadits, Abu Huroiroh bergaul dengan Nabi selama 4 tahun. Ia adalah shahabat yang paling kuat hafalannya dan beliau selalu hadir dalam majelis hadits di saat sebahagian sahabat yang lain tidak dapat hadir karena berbagai kesibukan seperti berdagang. Sehingga beliau telah menghafal kurang lebih sebanyak 5.374 hadits. Ia  menghafal hadits dan kemudian menelitinya dengan seksama.

Tholhah bin Ubaidillah rodhiallohu anhu berpendapat tentang Abu Huroiroh: “Kami tidak pernah meragukan, bahwa Abu Huroiroh mendengar dari Rosululloh sholallohu alaihi wasallam apa yang tidak kami dengar.”

Faktor-faktor yang menyebabkan Abu Huroiroh banyak meriwayatkan hadits.

  1. Abu Huroiroh rodhiallohu anhu selalu bergaul dengan Nabi sholallohu alaihi wasallam dalam setiap kondisi apapun dan ia menghabiskan hari-harinya hanya untuk meriwayatkan hadits, ia hampir tidak pernah menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang lain, kecuali hanya untuk meriwayatkan hadits.

Abu Huroiroh sendiri pernah menjelaskan mengapa ia bisa meraih keisitimewaan tersebut, sebuah keistimewaan yang tidak diraih oleh sahabat senior lainnya. Hal ini beliau sampaikan ketika ada sebagian manusia yang meragukan hadits-hadits beliau, “Sesungguhnya kalian berkata, “Sungguh banyak Abu Huroiroh meriwayatkan hadits dari Nabi sholallohu alaihi wasallam. Kalian juga berkata -wallahul mau’id-, ‘Mengapa para sahabat Muhajirin tidak meriwayatkan dari Rosululloh sholallohu alaihi wasallam hadits-hadits ini, mengapa para shahabat Anshor tidak meriwayatkan hadits-hadits ini. (Ketahuilah) Sesungguhnya para Sahabatku dari kalangan muhajirin agak tersibukkan dengan perdagangan mereka di pasar. Dan para Sahabatku dari kalangan Anshar agak disibukkan dengan pertanian mereka dan penjagaannya. Adapun aku adalah seorang yang selalu i’tikaf (tinggal di masjid) dan selalu bermajlis dengan Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Aku hadir ketika mereka berhalangan dan aku ingat ketika mereka lupa. Dan Nabi sholallohu alaihi wasallam suatu hari pernah berkata, ‘Siapa yang mau membentangkan selendangnya sampai aku selesai menyampaikan haditsku kemudian dia dekap selendangnya pasti dia tidak akan pernah lupa setiap apa yang aku sampaikan selamanya.” Maka akupun membentangkan selendangku kemudian aku mendekapnya. Demi Alloh!  Sejak itu aku tidak pernah lupa semua yang aku dengar dari beliau. Demi Alloh! Seandainya bukan disebabkan satu ayat didalam al-Qur’an, tentu aku tidak akan menyampaikan Hadits kepada kalian.’ Kemudian Abu Huroiroh rodhiallohu anhu membaca ayat, ‘Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk….” Beliau membaca ayat selengkapnya.” (HR. al-Bukhori)

  1. Kesungguhan Abu Huroiroh rodhiallohu anhu dalam mempelajari hadits. Sehingga iapun senantiasa bertanya kepada Nabi sholallohu alaihi wasallam tentang hal-hal yang belum pernah ditanya oleh orang lain. Pernah suatu ketika Abu Huroiroh berkata: “Ya Rosululloh, siapa manusia yang paling bahagia yang akan mendapatkan syafaatmu di hari Kiamat?” Rosululloh sholallohu alaihi wasallam menjawab: “Ya Aba Huroiroh, aku mengira tidak akan ada orang pertama yang akan menanyakan tentang hadits ini seorangpun selainmu, ketika aku melihat kesungguhanmu terhadap hadits, manusia yang paling bahagia yang akan mendapatkan syafa’atku hari Kiamat adalah siapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illalla’ ikhlas dari hati dan jiwanya.” (HR. al-Bukhori)
  2. Abu Huroiroh adalah orang yang paling sering dan paling lama ber-mulazamah dengan Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar (ia berkata): Wahai Abu Huroiroh, engkau adalah orang yang paling lama bermulazamah dengan Rosululloh dan yang paling tahu tentang Hadits Nabi di antara kami.” (HR. at-Tirmidzi)
  3. Takutnya Abu Huroiroh rodhiallohu anhu dari menyembunyikan ilmu. Karena Alloh subhanahu wa ta’ala jelas menjanjikan terhadap orang yang menyembunyikan ilmu dengan azab yang pedih. Abu Huroiroh pernah berkata, Demi Alloh! Seandainya bukan disebabkan satu ayat didalam al-Qur’an, tentu aku tidak akan menyampaikan hadits kepada kalian.’ Kemudian Abu Huroiroh membaca ayat, sebagaimana Alloh telah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al Kitab, mereka itu dila’nati Alloh dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 159)
  4. Nabi sholallohu alaihi wasallam mengaminkan doa Abu Huroiroh. Ketika Zaid bin Tsabit rodhiallohu anhu, bersama temannya dan juga Abu Huroiroh ingin berdo’a di dalam masjid. Kebetulan juga, datang Rosululloh sholallohu alaihi wasallam kepada mereka, mereka meminta agar Nabi sholallohu alaihi wasallam mengaminkan do’a mereka. Lalu berdo’alah Zaid bin Tsabit, setelah itu temannya yang seorang lagi kemudian barulah berdo’a Abu Huroiroh. Dan do’a yang dilantunkan Abu Huroiroh rodhiallohu anhu adalah: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta apa yang telah diminta dua sahabatku tadi dan aku meminta ilmu yang tidak akan pernah dapat aku lupakan” Lalu Rosululloh sholallohu alaihi wasallam mengaminkan. Zaid bin Tsabit dengan sahabatnya berkata: “Kami juga ingin berdo’a kepada Alloh, ilmu yang tak dapat kami lupakan,” Rosululloh sholallohu alaihi wasallam berkata: “Kalian telah didahului oleh putra Bani Ad-Dausy.” (HR. an-Nasa’i)

Maka dari itulah Abu Huroiroh rodhiallohu anhu tercatat sebagai perawi hadits terbanyak sepanjang masa, yang mana hadits-haditsnya sampai sekarang banyak kita temukan dan kita amalkan. Semoga Alloh ta’ala memberikan limpahan pahala kepadanya.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05